Get Adobe Flash player

LOGO

Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam mencerminkan perjalanan nilai-nilai adat istiadat, budaya leluhur kita yang tidak dapat dihapus dan dihilangkan begitu saja dan bahkan harus diketahui dan dipedomani oleh anak Negeri Palembang Darussalam sehingga timbul jati dirinya.

VISI

Mewujudkan Negeri Palembang Darussalam menjadi negeri tempat keselamatan yang diridhoi Allah SWT, melalui pelestarian adat istiadat Kesultanan Palembang Darussalam yang telah dilupakan dan ditinggalkan.

 

Kegiatan yang Telah Dilaksanakan

 

1. Pembuatan gambar Sultan Mahmud Badaruddin II di mata uang Republik Indonesia

Pengusulan diajukan kepada pemerintah Republik Indonesia (Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan surat No. SP/032/XI/2001/YKPD Pusat tanggal 6 November 2001 / 19 Sya’ban 1422) terkait tentang saran dan pendapat dalam pembuatan gambar di mata uang Reublik Indonesia. Permintaan tersebut kemusian dibalas dari Bank Indonesia Direktorat Pengedaran Uang dengan surat No. 04/132/DPU tanggal 8 Januari 2002 tentang pembuatan gambar di mata uang Republik Indonesia supaya gambar Sultan Mahmud Badaruddin II (Pahlawan Kemerdekaan Nasional dari Palembang, Sumatera Selatan) dimasukkan dalam pembuatan uang Rupiah Republik Indonesia.

Hal tersebut disetujui oleh pemerintah, sehingga gambar Sultan Mahmud Badaruddin II dijadikan gambar utama di bagian muka dan gambar rumah Limas Palembang pada bagian belakang uang Republik Indonesia yang bernilai Rp. 10,000 (sepuluh ribu rupiah).

2. Menyusun Kamus Baso Palembang dan mengadakan perlombaan di depan Monpera / depan Masjid Agung Palembang.

Berdasarkan Surat Ketua Panitia Festival Keraton Nusantara VI tahun 2008, No. 556 – 1/ 150/ FKN/ VII / 08 tanggal 25 Agustus 2008 tentang Technical Meeting dan Surat Bupati Gowa Nomor 430 / 070 / Pariwisata tanggal 26 Agustus 2008 tentang undangan untuk mengikuti Festival Keraton Nusantara VI tahun 2008 di Gowa, mereka mengundang Kesultanan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja yang sebelumnya telah mengikuti acara-acara di bawah koordinasi Festival Keraton Nusantara di Kutai dan Jogjakarta.

Namun, karena terjadi kesalahpahaman, Kepala Dinas KEbudayaan dan Pariwisata Prov. Sumatera Selatan yang menjabat pada masa itu, RH. Rahman Zent, mengajak Radhin Haji Iskandar Harun dan rombongan ke Gowa (Sulawesi Selatan). Disana mereka membuat tempat tersendiri, karena panitia tahu bahwa Sultan Palembang Darussalam (Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja) tidak dapat hadir.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kesultanan Palembang Darussalam ke 341 dan kebangkitan KPD ke 5, hari Senin, 3 Maret 2008, bertempat di Musium Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Walikota Palembang, Ir. H. Santana Putra diberikan gelar kehormatan Pangeran Adipati Eddy Santana Putra dan wakilnya Romi Herton diberikan gelar Pangeran Adi Romi Herton.

Pada hari Jum’at, 9 Mei 2008 pukul 08.00, SMB II Prabu Diradja bersama Ratu Agung Dewi Muslihat, Pangeran Puspo Kesumo Zainal Abiddin, Pangeran Wirobumi Muhammad Rasyid berangkat ke Jogjakarta untuk menghadiri pernikaha putri dari Sultan Hamengkubuwono X.

Pada hari Senin tanggal 24 November 2008, SMB III Prabu Diradja berserta Ratu Agung Dewi Muslihat, Pangeran Adipati Abdulrahman, Pangeran Puspo Kesumo Zainal Abidin, Pangeran Abdulrahman Panji, Pangeran Suryo Kesumo Abul Gofar, Pangeran Penoto Laksono Mir Senin berangkat ke Bali untuk menghadiri acara South East Asia Culture Royal Heritage Festival dan Expo di Art Centre Denpasar Bali. Acara tersebut diselenggarakan selama 5 hari, dimulai dari tanggal 25 November sampai 30 November 2008.

Kemudian beliau beserta rombongan juga berangkat ke Jakarta untuk memenuhi undangan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan kembali ke Depnasar Bali menggunakan pesawat Garuda pada tanggal 30 November 2008 untuk menghadiri malam penutupan acara tersebut. Dalam kesempatan tersebut, beliau bertemu dengan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Dan pada hari Senin tanggal 1 Desember 2008, beliau kembali ke Palembang.

3. Pengukuhan guguk-guguk di dalam dan di luar Palembang Darussalam.

Guguk-guguk yang dikukuhkan, antara lain Guguk Raden

Jemanten (13 Januari 2007),

Depaten Darat (21 Januari 2007),

Ogan Permata Indah (24 Februari 2007),

Sungai Aur (24 Februari 2007),

Sungai Tawar (28 Februari 2007),

Depati Ogan Komering Ulu (23 April 2007),

Bukit Bunga Indah (31 Maret 2007),

Lebak Mulyo Masjid Al Huda Sekip Palembang (1 April 2007),

Kebangkan (14 April 2007),

Muaro Merang Desa Kepayang (23 April 2007),

Silaberanti Jaya Palembang (28 April 2007),

Karang Agung Tua Musi Banyuasin (19 Mei 2007),

Tapak Ning 10 Ilir (17 Juni 2007).

Setelah mengukuhkan Guguk Ladang Jaring di pusat kota Palembang, Jln. Slamet Riyadi dan guguk Baiturrahman (di Rumah Susun 24 Ilir Jalan Radial Palembang), maka dengan dihadiri dari unsur muspika dan tokoh-tokoh masyarakat termasuk Pangeran Abdulrahman Panji, Pangeran Suryo Kesumo Abul Gofar,Pangeran Wikramo Abdul Habib, serta beberapa perangkat Kesultanan Palembang Darussalam, pada hari Ahad (minggu) 29 Maret 2009, bertempat di Desa Mangsang Bayung Lincir, Musi Banyu Asin, Negeri Palembang Darussalam, dikukuhkan guguk Marga Lalang Desa Mangsang Palembang Darussalam.

Acara pengukuhan tersebut dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-quran dan dilanjutkan dengan pembacaan Syair Sultan Palembang Darussalam, pembacaan piagam oleh Pangeran Puspo Kesumo Zainal Abidin dengan pengurus harian guguk adalah Tetuo Temenggung Burhanuddin, juru tulis / sekretaris adalah Tumenggung Pian dan Tolok Bendahara adalah Tumenggung Eko dan sebagai Laskar Adat adalah Senopati Usman.

4. Menghadiri berbagai kegiatan dan seminar terkait dengan Kesultanan Palembang Darussalam.

Salah satu kegiatan yang dilakukan lainnya adalah menghadiri Seminar Nasional Peradaban Basemah, Seminar Pendahulu Kerajaan Sriwijaya, di Pagar Alam, 28 Februari 2009 yang dimana para peserta ditempatkan di villa (tempat tinggal diisi oleh Radhin Iskandar Harun).

Pada hari Kamis, tanggal 4 Juni 2009, pukul 09.00 (Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja, Pangeran Puspo Zainal Abidin, Pangeran Tata Laksono Mir Senen, pangeran Muhammad Mustofa, Pangeran Mandi Api, Pangeran Roni Proda, Audensi dengan Kapolda Sumsel Irjen Pol. Drs. Sisno Adiwinoto didampingi oleh Irwasda Polda Sumsel, Kombespol Drs. Djauhari SUlaiman, Karo Binamitra, Dir. Intelkam, Kabid Humas.

Karena telah menyalahgunakan nama Kesultanan Palembang Darussalam, maka dengan maklumat Sultan Palembang Darussalam, No. KPD : Maklumat/ 01/ VI /2009 tentang KEgiatan Panglima Laska Adat dan Guguk Kesultanan Palembang Darussalam, pada hari Rabu, 17 Juni 2009, bertempat di Negeri Palembang Darussalam, berdasarkan visi, misi dan tato keramo serta martabat Kesultanan Palembang Darussalam

Memperhatikan kegiatan Muhammad Rasyid yang bergelar Pangeran Wirobumi Muhammad Rasyid yang ditugaskan sebagai Panglima Laskar Adat KPD, Tetuo Guguk Cinde Walang Kesultanan Palembang Darussalam membekukan kegiatan Panglima Laskar Adat Kesultanan Palembang Darussalam dan Tetuo Guguk Candi Walang, dilarang menggunakan nama KPD yang bertentangan dengan aturan prinsip yang dilanggar (Muhammad Rasyid A. Karim) karena diduga telah menguasai tanah ungkonan wakaf untuk perkuburan keluarga Pangeran Marta Kesumo bin Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo di lokasi Candi Walang Palembang (dibuat menjadi sertifikat hak milik Murni Lestari / 2009).

Pada hari Ahad (Minggu), 2 Agustus 2009, bertempat di Lokasi Taman Purbakala Karang Anyar Palembang, telah dibentuk guguk Karang Anyar Palembang Darussalam (Jln. Pangeran Siding Kenayan, Karang Anyar / dengan Tetuo Guguk adalah Abdul Azis, juru tulis Tumenggung Pian, Tolok Bendahara adalah TUmenggung Efendi Warto, Senopati M. Tamin NA, pembaca maklumat guguguk adalah Pangeran Puspo Zainal Abidin dan dilanjutkan dengan sumpah dan janji guguk Karang Anyar.

Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja, Sultan Palembang Darussalam, diundang ke Forum Komunikasi dan Informasi Kerato se-Nusantara no. 23 / FIKKN / VII / 2009 tanggal 23 Junli 2009 tentang Partisipasi Silaturahmi Nasional untuk hadi ke Istana Negara pada hari Jum’at tanggal 7 Agustus 2009. Namun Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja tidak dapat menghadiri acara tersebut, padahal tempatnya telah dipersiapkan oleh YM. Raja Samu Samu Benny Ahmad Samu Samu untuk menerima penghargaan dari Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Republik Indonesia) dank arena sebagai ketua FSKN wilayah Sumsel yang terikat dengan aturan yang harus dipatuhi oleh anggota FSKN untuk tidak meghadiri acara tersebut. Acara tersebut dihadiri kebanyakan dari Ketua Adat dari wilayah Maluku.

Menghadiri Pengukuhan Ketua FSKN wilayah Riau di Kesultanan Siak, berangkat jalan darat bersama denga Pangeran ratu Fauwaz diradja (SMB IV) dan bertemu Alidin / Malak di Pekan Baru dan naik kapal menuju Kesultanan Siak.

Pada hari minggu tanggal 22 Agustus 2010, setelah shalat Dzuhur, Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja di Jln. Sultan Muhammad Mansyur no. 0776, Kelurahan 32 Ilir Palembang, telah menerima kunjungan rombongan dari Kedah, Malaysia dalam rangka penelitian dan menjalin silaturrahmi Kesultanan Kedah Malaysia dengan Kesultanan Palembang Darussalam yang membawa Alidin Malaka (yang ikut menerima rombongan antara lain Pangeran Ratu Fawaz Diradja (SMB (V), Pangeran Adipati Abdulrahman, Pangeran Suryo Kesumo Abdul Gofar dan Pangeran Ari Panji).

Pin It

Renew ID Card

Alih Bahasa

Top