Get Adobe Flash player

LOGO

Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam mencerminkan perjalanan nilai-nilai adat istiadat, budaya leluhur kita yang tidak dapat dihapus dan dihilangkan begitu saja dan bahkan harus diketahui dan dipedomani oleh anak Negeri Palembang Darussalam sehingga timbul jati dirinya.

VISI

Mewujudkan Negeri Palembang Darussalam menjadi negeri tempat keselamatan yang diridhoi Allah SWT, melalui pelestarian adat istiadat Kesultanan Palembang Darussalam yang telah dilupakan dan ditinggalkan.

 

Istana

Istana Beringin Janggut
Adalah salah satu Istana Kesultanan Palembang Darussalam dan merupakan tempat tinggal Sultan-Sultan Palembang Darussalam (di zaman Sri Paduka Susuhunan Abdurrahman) setelah Keraton Kuto Gawang dibakar pasukan VOC dan sebelum dibuat Keraton Kuto Kecik / Lamo. Sekarang lokasi Istana Beringin Janggut tersebut telah menjadi kawasan pertokoan. Lokasi asal dari Istana Beringin Janggut ini terletak di Jalan Beringin Janggut Palembang.

Istana Kuto Kecik / Lamo
Dibangun oleh Sri Paduka Sultan Mahmud Badruddin Jayo Wikramo bin Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago. Istana ini digunakan oleh Sultan-Sultan Palembang Darussalam sebelum dibangunnya Istana Kuto Anyar di dalam Benteng Besak / Kuto Anyar. Selanjutnya, Kuto Kecik ini dibongkar oleh Belanda dan dibangun Rumah Residen Belanda. Sekarang lokasi Istana Lamo dipergunakan sebagai Musium Sultan Mahmud Badruddin II dan Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) Sumatera Selatan pada masa Revolusi Fisik Pertempuran Lima Hari Lima Malam (1 Januari sampai 5 Januari 1947). Peletakkan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1975 pada masa pemerintahan H. Asnawi Mangku Alam dan pembukaannya diresmikan oleh Menko Kesra yang waktu itu dijabat oleh H. Alamsyah Ratu Perwira Negara pada tanggal 23 November 1988. Lokasi Istana Kuto Kecik / Lamo ini terletak diantara Jembatan Ampera dan Benteng Besak Kuto Anyar, Palembang.

 

Istana Kuto Gawang
Adalah Istana Palembang sebelum masa Kesultanan Palembang Darussalam. Pada tahun 1659 M dibakar oleh pasukan VOC di bawah pimpinan Joan Van Der Laen. Pada masa itu Palembang dipimpin oleh Pangeran Siding Rejek (Pangeran Ratu Mangkurat) yang memerintah tahun 1062 – 1069 H atau 1625 – 1659 M. Sekarang lokasi Istana Kuto Gawang tersebut telah hancur, hilang, rusak, sejak didirikan PT Pusri pada tanggal 24 Desember 1958. Lokasi Istana Kuto Gawang tersebut digunakan untuk pembangunan perkantoran, perumahan dan pabrik oleh PT Pusri Palembang.

 

Istana Kuto Anyar (Benteng Besak / Kuto Anyar)

Benteng Besak / Kuto Anyar dibangun oleh Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin bin Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo pada hari Ahad (Minggu) tanggal 15 Jumaidil Awal 1193 H atau 1779 M. Benteng tersebut dipergunakan pertama kali pada hari Senin pagi, 23 Sya’ban 1211 atau 23 Februari 1792. Benteng Kuto Besak / Anyar ini memiliki panjang 288,75 meter dengan lebar 183,75 Meter dan tinggi 9,99 meter (30 kaki). Tebal dinding benteng ini 1,99 meter (6 kaki). Benteng ini merupakan lokasi dari Istana Kesultanan Palembang Darussalam.

Istana Kesultanan Palembang Darussalam ini dibakar oleh Belanda pada bulan Ramadhan 1236 H masa akhir dan sebelum Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (Sultan Mahmud Badaruddin II) diasingkan ke Ternate (Maluku Utara). Benteng Besak / Kuto Anyar ini pernah dipakai oleh Susuhunan Husin Diauddin (Sunan Mudo) bersama dengan pasukan Belanda. Pada saat ini, Benteng Besak / Kuto Anyar digunakan oleh Kesdam II Sriwijaya serta beberapa instansi. Namun, yang amat disayangkan adalah telah banyak terjadi pembongkaran atau renovasi dari bangunan asli Benteng Besak/ Kuto Anyar yang menyebabkan berkurangnya nilai-nilai sejarah sisa kejayaan Istana Kesultanan Palembang Darussalam ini.

Bahkan pada tahun 2002, lokasi Kuto Anyar ini sempat direncanakan akan dibangun Palembang Plaza, dan sampai saat ini orang-orang tertentu masih ingin membangun pertokoan di lokasi tersebut. Hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang terutama dahulu zuriatnya membenci atau bermusuhan dengan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin bin Sultan Muhammad Bahauddin.

Pada tahun 2003, Walikota Palembang, Ir. Eddy Santana Putra telah berusaha membersihkan kawasan depan Kuto Anyar / Besak dari pedagang buah-buahan. Diharapkan dalam melestarikan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, sebaiknya mengikutsertakan zuriat Kesultanan Palembang Darussalam yang mempunyai jiwa untuk melestarikan, bukan zuriat untuk menghancurkan, menghilangkan, merubah warna / bentuk (mencari keuntungan sesaat) atau memperjualbelikan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pada tahun 2006, Lokasi Istana Kesultanan Palembang Darussalam ini kembali terjadi pembangunan tempat usaha pada tahun 2006, di masa Pangdam II Sriwijaya (Mayor Jendral TNI Syarifuddin Tippe Slp) dan di masa Pangdam II Sriwijaya Mayor Jendral TNI Mohammad Sochib SE, MBA dan Kasdam II Sriwijaya Brigadir Jendral TNI Junianto Haroen (2009). Hal tersebut terjadi karena kemungkinan mereka kurang mengerti permasalahan bahwa lokasi tersebut termasuk dalam kawasan Benda Cagar Budaya. (Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No : KM.09 / PW 007 / MKP / 2004 tanggal 5 Maret 2004 tentang Penetapan Benteng Kuto Besak yang berlokasi di wilayah Propinsi Sumatera Selatan sebagai Benda Cagar Budaya, Situs atau Kawasan yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesi No. 05 tahun 1992.)

Pin It

Renew ID Card

Alih Bahasa

Top