Get Adobe Flash player

LOGO

Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam mencerminkan perjalanan nilai-nilai adat istiadat, budaya leluhur kita yang tidak dapat dihapus dan dihilangkan begitu saja dan bahkan harus diketahui dan dipedomani oleh anak Negeri Palembang Darussalam sehingga timbul jati dirinya.

VISI

Mewujudkan Negeri Palembang Darussalam menjadi negeri tempat keselamatan yang diridhoi Allah SWT, melalui pelestarian adat istiadat Kesultanan Palembang Darussalam yang telah dilupakan dan ditinggalkan.

 

Pengukuhan dan Perjuangan Sultan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II)

Pada hari Isnin (Senin) tanggal 22 Zulhijjah 1218, pukul 10.00 berpulang ke Rahmatullah, Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin bin Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo. Dan pada hari yang sama sekitar pukul 15.00, diadakan perhimpunan sekalian priyai-priyai, menteri-menteri, kepala-kepala dusun dan Panembahan Tua yang bergelar Pangeran Arya, Pangeran Dipa yang bergelar Pangeran Surya Kesuma, Sultan Ahmad Najamuddin II (Husin Diauddin) dengan gelar Pangeran Adi Menggalo, Pangeran Bupati Panembahan Hamim dengan gelar Pangeran Adi Kesumo dan Pangeran Adipati Abdurrahman dengan gelar Pangeran Nata Kesuma, dan Pangeran Nata Deratjah yaitu Pangeran Wiro Deratjah sebagai Pangeran Pernada Menteri dan Pangeran Penghulu Abusama dan lainnya. Berdasarkan perhimpunan di Pesaben tersebut, mereka bermufakat untuk mengangkat Pangeran Ratu menjadi Sultan Ratu Mahmud Badaruddin menggantikan Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin yang wafat untuk menjadi Sultan Palembang Darussalam.

Setelah mencapai mufakat, para zuriat Sultan Muhammad Bahauddin hendak mengangkat Pangeran Ratu Hasan sebagai Sultan Palembang Darussalam dengan gelar Sultan Ratu Mahmud Badaruddin, maka masuklah Pangeran Aria dan Pangeran Suryo.

Maka Sri Paduka Pangeran Ratu keluar ke Pesaben diiringi dengan sanak saudara dan air mata yang tiada putus. Apabila sampai di Pesabean, maka Pangeran Suryo menyampaikan pesan kepada semua orang dan mengumumkan bahwa Sri Paduka Ratu telah dinaikkan ke atas tahta Kerajaan untuk menggantikan Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin yang telah almarhum, dan diberikan gelar Sultan Mahmud Badaruddin dan anak beliau yaitu Raden Cik diberikan gelar Pangeran Ratu.

Kemudian Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin bertitah puladengan memberikan gelar kepada saudara-saudaranya, yaitu :

1. Pangeran Adia Menggala (Suhunan Husin Dhia Uddin) dengan gelar Pangeran Adipati
2. Pangeran Adia Kesumo (Pangeran Adipati Hamim) dengan gelar Pangeran Adipati Kesumo
3. Pangeran Nato Kesumo (Adipati Abdul Rachman) dengan gelar Pangeran Suryo Kesumo.

Setelah itu, Pangeran Aryo Kesumo berdiri untuk mengumumkan kepada khalayak bahwa Pangeran Wiro Diratjah diberikan gelar Pangeran Nata Diratjah.

Setelah selesai dengan pemberian gelar, maka semua khalayak kembali ke tempat masing-masing, sementara Sultan Ratu Mahmud Badaruddin serta saudara-saudaranya kembali ke dalam benteng, begitu pula para menteri, punggawa, serta semua rakyat. Namun, sebagian masih ada yang tetap berada di pesabean dan pintu-pintu kota.
Keesokan harinya, setelah memakamkan Alm. Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin di Kawah Tekurep, Lemabang, maka tetaplah Sultan Ratu Mahmud Badaruddin di atas tahta Kesultanan Palembang Darussalam. Kemudian diadakan suatu sidAng yang dihadiri oleh para penggawa menteri, priyai, sata-sata, para kepala dusun dan lainnya untuk menyampaikan janji menurut adat masing-masing.

Pada hari Selasa, 28 Sya’ban 1226 (16 September 1811), Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin memerintahkan Belanda yang berada di Loji Sungai Aur untuk keluar dari wilayah Palembang Darussalam. Terjadi pertempuran sengit diantara keduanya yang menyebabkan banyak korban jatuh dari pihak Belanda. Dan akhirnya, pada tanggal 1 Ramadhan 1226, semua Belanda keluar dari Negeri Palembang Darussalam. Peristiwa tersebut terkenal dengan Peristiwa Loji Sungai Aur.

Dengan keluarnya Belanda dari Negeri Palembang Darussalam, maka Inggris ingin menggantikan kedudukan Belanda di Negeri Palembang Darussalam. Permintaan tersebut ditolak oleh Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin. Di bawah pimpinan Kolonel Jendral Gilesfi dan Komandan Kapten Wien dan Obus, pada hari Jum’at 5 Rabiul Akhir 1228 (1813), para tentara Inggris menyerang Kesultanan Palembang Darussalam. Pihak Inggris berhasil menguasai Benteng di Pulau Borang (Benteng di Pulau Borang ditinggalkan oleh Pangeran Husin Diauddin). Pada tanggal 12 Rabiul Akhir 1228, Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin mudik ke Muara Rawas menyusun perlawanan-perlawanan rakyat di pedalaman.

Sewaktu Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin melawan Inggris, terjadi perpecahan di lingkungan Kesultanan Palembang Darussalam antara para zuriat / kerabat Kesultanan Palembang Darussalam. Pada hari Kamis, 3 Jumadil Awal 1228 atau 2 Mei 1813 pada pukul 09.00, Inggris mengangkat adik Sri Paduka dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin. Dan pada hari Jum’at tanggal 7 Jumadil Awal 1228 atau 6 Mei 1813, pukul 06.00, tentara Inggris keluar dari kota Palembang.

Pada hari Kamis, 17 Rajab 1228 atau 15 Juli 1813, Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin bersama Major Robinson milir dari daerah Rawas dan sampai di sawah pada pukul 04.00 dan naik ke Sirep Kuto Anyar pukul 06.00, dan Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin pindah ke Kuto Lama (Benteng Lamo yang sekarang di Museum SMB II).
Pada malam Jum’at, 21 Ramadhan 1228 jam 21.00, Mayor Kul Berok (Belanda) memberikan 5 (lima) peti emas yang beratnya dua setengah pikul dan seserahan Tanah Bangka yang kaya dengan timah kepada Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin.

Pada hari Sabtu, 15 Sya’ban 1233 atau 1819, Elder Menteng mengarak surat dari Raja Belanda beserta dengan Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin.

Pada hari Kamis, tanggal 21 Sya’ban 1233, Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin pindah ke taman hilir.
Hari Jum’at, 22 Sya’ban 1233, Sri Paduka Sultan Ratu Mahmud Badaruddin pindah ke Benteng Kuto Besak / Kuto Anyar disambut dengan tembakan meriam kehormatan.

Pada malam hari, Kamis, 28 Muharram 1233, Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin keluar dari Lawang Borota, turun ke perahu Said Husin Asegaf, dan pada 1 Syafar 1233, mintar dari Sungai Rendang, dan 7 Syafar 1233 berangkat ke Betawi.

Belanda telah berkali-kali menyerang Negeri Palembang Darussalam, tetapi penyerangan-penyerangan tersebut dapat digagalkan oleh anak Negeri Palembang Darussalam. Pada akhirnya, Belanda mencari cara lain yaitu dengan mengadu domba antara Sultan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II) dan Sultan Ahmad Najamuddin / Husin Diauddin, dengan mungkin mengatakan bahwa Kesultanan Palembang Darussalam sudah lemah dan banyak kekacauan yang tidak dapat diatasi oleh Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II), maka perlu dibuat Kesultanan Palembang Darussalam yang baru. Maka dipanggillah Sultan Husin Diauddin yang pada waktu itu berada di Cianjur (Jawa Barat) untuk membuat perjanjian dengan pihak Belanda.

Puncak adu domba Belanda terjadi pada saat Laskar Kesultanan Palembang Darussalam menghadapi Pasukan Belanda yang pada waktu itu dipimpin oleh Letnan Jendral Baron De Kock pada tahun 1821, yang bilamana peperangan itu diteruskan, maka dapat menghancurkan zuriat / kerabat Kesultanan Palembang Darussalam serta anak Negeri Palembang Darussalam.

Menurut cerita bahwa orang-orang yang berada di dalam lingkungan Istana Kesultanan Palembang Darussalam (Benteng Kuto Besak Anyar) telah disumpah oleh Sultan, untuk mencegah musuh dalam selimut yang dapat menyerang dari dalam.

Sedangkan dari belakang, pasukan Belanda menyerang dengan dibantu oleh kaki tangan Belanda yang diantaranya menjabat Divisi Hoofd, membantu membocorkan pertahanan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II). Mereka melewati Selat Jaran dan menuju belakang Istana Kesultanan Palembang Darussalam (Benteng Besak Kuto Anyar).

Posisi Kapal Pelarng Belanda yang menyerang benteng=benteng Kesultanan Palembang Darussalam, pada tanggal 20 sampai dengan 24 Juni 1821:

1. ZM Fregat Van Der Werff
2. ZM. Hulk Nassau
3. ZM. Fregat Dageraad
4. ZM. Karvet Verus
5. ZM. Karvet Ajok
6. ZM. Kananmebooten En Kielligters
7. ZM. Schoener Johanna
8. ZM. Calyypso
9. ZM. Brik Jacoba Elisabeth
10. ZM. Kanonnrboot no. 13
11. ZM. Kanonnrboot no. 15
12. ZM. Lendingsboten
13. Transport Schepen
14. Hospitools Chip

Posisi kapal perang Belanda tanggal 27 Juni 1821
1. Voorhoede Von Jokokokksbooter
2. ZM. Karveet Venus
3. ZM. Hulk Naseau
4. ZM Fregat Van Der Werff
5. ZM Fregat Dageraad
6. ZM. Karvet Ajax
7. ZM. Schaener Jahanna
8. ZM. Grik Jacoba Eslisabeth
9. ZM. Schoener Calijpso
10. ZM. Kienigler no. 07
11. ZM. Kienigler no. 02
12. Booten Met Landing Iroepen
13. ZM. Karvet Zeepard
14. ZM. Karvet Zwaluove
15. ZM. Brik Syrene
16. Karrenarre
17. Delta
18. ZM. Transport Chepen

Di dalam rombongan kapal perang Belanda yang menyerang itu, juga ikut serta Sri Paduka Susuhunan Husin Diauddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom bin Susuhunan Husin Diauddin yang telah diangkat Belanda menjadi Sultan Palembang di Betawi, sebelum mereka menyerang Negeri Palembang Darussalam. Terdapat kemungkinan bahwa kapal Susuhunan Husin Diauddin disandera oleh pihak Belanda, sehingga kapal Susuhunan Husin Diauddin dijadikan tameng untuk berada di posisi paling depan dari kapal-kapal penyerang.

Adapun perjanjian Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom bin Susuhunan Husin Diauddin yang telah dibuat di Bogor, 24 April 1821 sebelum mereka ikut Belanda untuk menyerang Negeri Palembang Darussalam, antara lain sebagai berikut:

1. Bahwa zuriat Susuhunan Husin Diauddin akan dikembalikan ke atas tahta Kerajaan Palembang dengan kekuatan senjata Gubernemen Belanda dan mengaku takluk di bawah pemerintahan Belanda.

2. Bahwa Susuhunan Husin Diauddin sendiri tidak memerintah lagi, hanya hidup menyendiri dengan ditetapkan memakai gelaran Susuhunan.

3. Bahwa pemerintah akan diserahkan kepada putra sulungnya (Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom).

4. Bahwa Gubernemen Belanda berhak mengambil bea-bea masuk dan keluar, uang Pachi dan uang pajak lainnya untuk pemeliharaan dan memperbaiki gedung-gedung dan atau pendirian keperluan Gubernemen Belanda.

5. Bahwa untuk mengimbangi itu semua, maka penghasilan yang didapat dari perusahaan-perusahaan dan tanah, diberikan kepada Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom.

6. Bahwa pajak-pajak yang akan diadakan oleh Sultan, biar bagaimanapun kecilnya, harus melalui persetujuan dan permufakatan dengan Gubernemen Belanda.

7. Bahwa diwajibkan memberitahu pada Residen tentang pekerjaannya pengadilan Anak Negeri dalam segala hal.

8. Dan sebagai penutup, bahwa perniagaan budak-budak belian dan rampas-merampas antara manusia sesama manusia, terutama di wilayah Bangkahulu haruslah dibasmi dengan keras.

Menurut cerita bahwa setelah Susuhunan Husin Diauddin membuat perjanjian tersebut dengan Belanda, maka Susuhunan Husin Diauddin menyuruh istrinya yang bernama Nyimas Taipah pulang ke Negeri Palembang Darussalam untuk mencari rahasia pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Nyimas Taipah kembali dan menyampaikan rahasia pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam kepada Susuhunan Husin Diauddin di Cianjur. Dengan demikian, semakin mudahlah jalan dari Belanda yang dipimpin oleh Letnan Jendral Baron de Kock bersama dengan Susuhunan Husin Diauddin untuk menerobos masuk ke dalam Negeri Palembang Darussalam dan juga dibantu oleh para kaki tangan Belanda dari dalam kawasan Palembang Darussalam.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, zuriat / kerabat Kesultanan Palembang Darussalam dan anak Negeri Palembang Darussalam (baca syair Sultan Mahmud Badaruddin), maka Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmu Badaruddin besera keluarga dan kerabatnya keluar dari Istana Kesultanan Palembang Darussalam / Benteng Besak / Kuto Anyar pada akhir Ramadhan 1236. Mereka kemudian tinggal di Kampung Pangeran Adipati Tuo (Depaten/ Sekanak sekarang) di Negeri Palembang Darussalam.

Pangeran Prabu Kesumo Abdul Hamid dan Pangeran Krama Jaya memberikan kunci Benteng Besak Kuto Anyar (yang diberikan bukan kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam) kepada Pangeran Wiro Keramo Gober bersama dengan beberapa menteri, priyai dari laut (pengikut Susuhunan Husin Diauddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom) dengan diiringi serdadu Belanda yang berjumlah kurang lebih 200 (dua ratus) orang. Genta dalam keraton dan peti-peti harta yatim dan peti lainnya yang belum sempat diwariskan didudukkan di Tangga Batu.
Hari Ahad (Minggu) tanggal 23 Ramadhan 1236, jam 01.00 siang, Benteng Besak Kuto Anyar (Istana Kesultanan Palembang Darussalam) ditempati / diduduki oleh Letnan Jendral Baron de Kock bersama dengan Susuhunan Husin Diauddin bin Sultan Muhammad Bahauddin.

Pada malam Selasa tanggal 3 Syawal 1236, Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin yang dikenal sebagai Sultan Mahmud Badaruddin II beserta keluarga dan kerabatnya ditangkap dan dinaikkan ke kapal oleh Belanda.
Hari Rabu, 4 Syawal 1236 (1821), diberangkatkan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin dari Negeri Palembang Darussalam ke Betawi / Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Ternatesebagai Sultan Palembang Darussalam.

Karena Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin tidak pernah membuat surat kalah perang melawan Belanda (tidak pernah menyerah atau tidak pernah membuat perjanjian-perjanjian dengan Belanda, yang biasa dilakukan apabila kalah dalam peperangan baik berupa Lange Verklaring maupun Korte Verklaring dengan Belanda). Yang dalam arti kata, beliau tidak pernah menyerahkan Kesultanan Palembang Darussalam kepada siapapun.
Sementara itu, putra dan putri dari Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin yang tidak ikut ke Ternate, antara lain adalah;

– Pangeran Suto Wijaya Usman;
– Pangeran Suto Wijaya Akil;
– Pangeran Putro Dinato Ali; dan,
– Raden Nayu Khotimah Keramo Jayo.

Para hulubalang, pengikut Sri Paduka Susuhunan Ratu (para menteri, priyai-priyai) yang setia, turut pergi meniggalkan Negeri Palembang Darussalam. Para pengikut tersebut tersebar di daerah-daerah, bahkan sampai di luar negeri Palembang Darussalam. Pada umumnya mereka menanggalkan gelar-gelar Kesultanan Palembang Darussalam (Raden, Masagus, Kemas, Kiagus), termasuk mengubah bahasa sehari-hari karena takut diketahui dan dikejar-kejar oleh Belanda atau pengikut Belanda / kaki tangan Belanda yang sering mengaku sebagai zuriat dari salah satu Sultan Palembang Darussalam (yang menurut cerita, mereka lebih kejam dan berbahaya daripada Belanda).

Pada hari Senin, 9 Syawal 1236 (1821), Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom bin Susuhunan Husin Diauddin diangkat menjadi Sultan Palembang Darussalam oleh Belanda di Balai Palembang.

Pada hari Selasa 17 Syawal 1236 H, Pangeran Adipati Hamim mendapatkan gelar Panembahan Hamim.
Pada tahun 1240, Susuhunan Husin Diauddin wafat di Betawi dalam usia 56 tahun, 9 bulan, 3 hari, dan dimakamkan di Kerukut, Jakarta Barat. Dikarenakan kondisi lingkungan makam yang kurang pantas dan kurang terawat, maka pada Senin, 16 Juni 1986, makam tersebut dipindahkan ke Palembang. Setelah sebelumnya banyak penentangan, pada akhirnya Susuhunan Husin Diauddin dimakamkan di Lokasi Kawah Tekurep, Lemabang, Palembang.

Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom mengadakan perlawanan terhadap pemerintahan Belanda di daerah. Perlawanan tersebut dilakukan karena hak-haknya tidak dipenuhi oleh Belanda sesuai dengan perjanjian sebelum menyerang Negeri Palembang Darussalam yang diperintah Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin.

Pada hari Jum’at, 3 Syawal 1240 (1824 M), Pangeran Bupati Hamim berangkat ke Betawi dengan kapal perang Belanda dan pada malam Sabtu 28 Zulhijjah 1240, kembali ke Palembang bersama dengan Residen Belanda.

Pin It

Renew ID Card

Alih Bahasa

Top