Get Adobe Flash player

Berita Kegiatan Istana

Gamelan Music

Senarai Pelawat

  • User Online: 1
  • Today Visit: 1120
  • Yesterday Visit: 1400
  • Week Visit: 6140
  • Month Visit: 19350

Darjah Kebesaran Istana

Seri Setia Mangku Sultan Mahmud Badaruddin III
Darjah Paduka Seri Mahkota Palembang
Darjah Paduka Mahkota Palembang
Darjah Indera Mangku Sultan Mahmud Badaruddin III

Kalendar

March 2014
M T W T F S S
     
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Facebook Like

Makam Raja-Raja atau Sultan-Sultan Kesultanan Palembang Darussalam

Adapun ungkonan – ungkonan atau makam-makam raja atau sultan di Kesultanan Palembang Darussalam dan keluarganya antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Makam Komplek Kiai Geding Suro.

Di lokasi tersebut dimakamkan Sri Paduka Kiai Geding Suro Tuo bin Pangeran Siding Lautan beserta keluarganya. Lokasi makan telah dipugar namun tidak dipelihara atau dirawart dengan baik sehingga terkesan ditelantarkan.

Lokasi makam terletak di ujung jalan Haji Umar, Lemabang, Palembang (Sebelah PT Pusri, Palembang).

 

  1. Makam Nyi Geding Pembayun

Dimakamkan Sri Paduka Nyi Geding Pembayun binti Kimas Anom yang menikah dengan Sri Paduka Pangeran / Temenggung Manco Negoro. Beliau merupakan ibunda Sri Paduka Pangeran Siding Pesarian yang menurunkan Sultan-Sultan Palembang Darussalam. Lokasi makam terletak di Jln. Segaran 15 Ilir Palembang.

 

  1. Makam Candi Angsoko

Dimakamkan Sri Paduka Pangeran Madi Angsoko bin Kimas Anom Adipati Ing Suro Kiai Geding Suro Mudo yang memerintah Palembang pada tahun 1003-1038 H atau 1595 – 1692 M. Lokasi tersebut dahulunya adalah makam yang merupakan ungkonan Sultan Palembang dengan luas lebih kurang 125 meter x 120 meter = 15.000 meter  (dasar : Daftar Rekapitulasi hasil kunjungan Tim Pengukuran dan Pemetaan lokasi Situs Arkeologi Kodya Palembang, Kecamatan Ilir Timur 1, tanggal 5 Agustus 1992).

Saat ini banyak yang mengaku sebagai ahli waris dengan maksud untuk mencari keuntungan pribadi atau golongan tertentu, dan telah memperjual-belikan lokasi tanah ungkonan Sultan Palembang ini  untuk dijadikan kawasan perumahan dan pertokoan yang diantaranya lain dibangun menjadi Ruko Walet Emas, sehingga makam Sri Paduka Pangeran Madi Angsoko menjadi sempit (pembuatan izin pembangunan ruko ini dilakukan pada masa Drs. H. Husni MM menjabat. Camat yang tidak mau menandatangani pembangunan ruko tersebut dimutasikan oleh Walikota Palembang).

Perlu diketahui bahwa tanah-tanah yang berada di Negeri Palembang Darussalam merupakan milik Kesultanan Palembang Darussalam, dan pada masa pendudukan Belanda, dibuatlah Undang-Undang / Peraturan untuk menguasai atau mengambil tanah-tanah Kesultanan Palembang Darussalam. Setelah zaman Kemerdekaan Republik Indonesia, tanah-tanah Kesultanan Palembang Darussalam banyak dipakai dan digunakan oleh Pemerintah RI sampai sekarang, serta diakui, dirusak, dihancurkan oleh para pendatang yang kurang mengerti tentang aset sejarah Kesultanan Palembang Darussalam.

  1. Makam Candi laras

(Masih dalam penelitian tentang kebenarannya)

Dimakamkan Sri Paduka Pangeran Madi Alid (Ketib Abang) bin Kimas Anom Adipati Ing Suro Kiai Geding Suro Mudo yang memerintah di Palembang pada tahun 1038 – 1039 H atau 1629-1630 M. Di lokasi tersebut juga terdapat tempat pertahanan Jepang. Lokasi makam pada saat ini tidak terawat dan telah dibongkar dan dihancurkan oleh orang yang mengaku sebagai pembeli atau pemilik dari tanah makam. Padahal, apabila dilihat dari proses cara mendapatkan lokasi makam, nampak terjadi penyelewengan atau hal yang tidak wajar, antara lain membeli lokasi tanah di luar kota Palembang dengan harga yang murah dari orang yang tidak jelas asal uslnya, akan tetapi mengambil tanah di lokasi makam Pangeran Madi Alit (Ketib Abang). Bahkan, terdapat orang keturunan Cina yang mengaku sebagai pemilik tanah di lokasi tersebut. Lokasi makam terletak di Jalan Jendral Sudirman, di sebelah RS Kristen Charitas, Palembang.

 

  1. Makam Sabe Kingking

Di makam Sabe Kingking telah dimakamkan :

  1. Sri Paduka Pangeran Siding Pesarean (Pangeran Ratu Mangkurat) bin Tumenggung Monco Negoro;
  2. Sri Paduka Pangeran Siding Kenayan bin Kimas Adipati, dan;
  3. Sri Paduka Ratu Sinuhun bin Tumenggung Monco Negoro beserta para zauriatnya;

(Sri Paduka Ratu Sinuhun merupakan pembuat atau penyusun Kitab Simbur Cahaya yang saat ini masih  dipergunakan di daerah –daerah.)

Lokasi makam terletak di Jln. Sabe Kingking, 1 Ilir Palembang.

 

  1. Makam Sako Tigo (OKI)

Dimakamkan Sri Paduka Pangeran Siding Rejek bin Pangeran Siding Pesarean, yang mengungsi ke Sako Tigo, OKI. Keratonnya (Kuto Gawang) dibakar pada tahun 1659 oleh pasukan VOC Belanda dan beliau tidak mau kembali memerintahkan di Palembang sampai wafat di Sako Tigo (OKI). Lokasi makam di Sako Tigo Tanjung Raja, Ogan Komering Ilir.

 

  1. Makam Candi Walang

Dimakamkan Sri Paduka Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam (Kiai Mas Endi, Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim bin Pangeran Siding Pesarean, memerintah tahun 1069 – 1118 H atau 1659 – 1706 M. Sri Susuhunan Abdurrahman menyatakan lepas dari ikatan kerajaan di Jawa dan mendirikan Kesultanan Palembang Darussalam (merupakan sesepuh pelopor otonomi daerah abad ke 17).

Bangunan makam telah diubah, bahkan terdapat makam yang terjepit dengan tembok bangunan baru. Di sekitar makam juga dijadikan daerah buangan atau resapan air limbah dari perumahan dan pertokoan yang ada di sekitarnya karena sebelumnya tidak dibangun pembuangan limbah yang baik. Hal tersebut tentu amat mengecewakan, dimana seharusnya tanah pemakaman tersebut dikembalikan ke bentuk asalanya.

Lokasi makam Sri Paduka Susuhunan Abdurrahman ini pernah dibuatkan sertifikat oleh orang yang mengaku sebagai ahli waris dan menjual tanah tersebut untuk dijadikan kawasan pertokoan. Orang yang mengaku sebagai ahli waris ini dicari oleh para zuriat Sultan Palembang Darussalam (pada masa pemerintahan Walikota Cek Yan), sehingga pembangunan kawasan pertokoan dihentikan dan tembok pembatas yang telah dibangun dirobohkan oleh Laskar Adat Kesultanan Palembang Darussalam.

Lokasi makam terletak di Jln. Candi Walang, 24 Ilir, Palembang.

 

  1. Makam Kebon Gede

Dimakamkan Sri Paduka Sultan Muhammad Masyur Jayo Ing Lago bin Susuhunan Abdurrahman yang memerintah pada tahun 1118-1126 H atau 1706-1714 M. Lokasi makam saat ini kurang terawat, bahkan diambil dan dibuat perumahan oleh orang yang mengaku zuriat dari Sultan atau kurang menghargai nilai sejarah Palembang, termasuk dijadikan kantor Kelurahan.

Lokasi makam di Jln. Sultan Muhammad Mansyur, 32 Ilir, Palembang.

 

  1. Makam Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno

Dimakamkan Sri Paduka Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno bin Susuhunan Abdurrahman, yang memerintah pada tahun 1126-1136 H atau 1714-1724 M. Lokasi makam sudah banyak diambil untuk dijadikan sekolah dan kantor Kelurahan 1 Ilir Palembang, termasuk juga dibangun untuk kepentingan warga di sekitar makam. Lokasi makam terletak di Jl. Sultan Agung, samping Masjid dan kantor Kelurahan  1 Ilir, Palembang.

 

  1. Makam Komplek Kawah Tengkurep

Di lokasi pemakaman Kawah Tengkurep antara lain dimakamkan Sultan-Sultan Palembang, yang diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bin Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago.

Beliau memerintah pada tahun 1136-1171 H atau 1724-1758 M. Beliaulah yang telah membangun Masjid Agung Palembang.

 

  1. Sri Paduka Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.

Beliau memerintah pada tahun 1171-1190 H atau 1758-1776 M. Beliaulah yang telah membuat senapan dan meriam-meriam dari tembaga yang panjangnya tiga depa.

 

  1. Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin bin Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo.

Beliau memerintah pada tahun 1190-1218 H atau 1776-1803 M. Sri Baginda telah membangun Benteng Besak Kuto Anyar pada hari Ahad (Minggu) tanggal 15 Jumadil Awal 1993 H atau 1779 M yang saat ini digunakan oleh Kesdam II Sriwijaya.

 

  1. Sri Paduka Susuhunan Husin Diauddin (dengan julukan Sunan Mudo) bin Sultan Muhammad Bahauddin.

Semasa pendudukan Inggris, beliau diberi gelar Sultan Ahmad Najamuddin. Beliau adalah saudara kandung Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin. Pada 16 Juni 1986, makam beliau dipindahkan dari Krukut, Jakarta Barat ke Palembang. Pada awal rencana pemindahan tersebut, di nisan yang bertuliskan nama beliau, tidak ditemukan kerangkannya. Namun dengan petunjuk dari orang-orang spiritual yang mampu berkomunikasi dengan dunia lain, dapat diketahui bahwa makam tersebut sebenarnya berada di bawah pohon belimbing. Setelah ditemukan, kerangka beliau dibawa ke Palembang untuk dimakamkan secara layak. Pertentangan mengenai lokasi pemakaman juga sempat terjadi dimana sebagian pihak tidak mengizinkan beliau untuk dimakamkan di lokasi Makam Kawah Tengkurep. Hal tersebut menyebabkan kerangka beliau sempat belum dimakamkan selama beberapa hari setelah sampai dari Jakarta.

 

  1. Sri Paduka Pangeran Adipati Abdurrahman bin Sultan Muhammad Bahauddin

Banyak tanah makam Komplek Kawah Tengkurep yang diambil oleh orang-orang yang kurang mengerti atau tidak ingin mengerti terhadap peninggalan sejarah Palembang, dengan alasan untuk pembangunan. Pada akhirnya banyak diantara makam-makam yang digusur  termasuk lokasi makam Kambang Koci. Lokasi Kawah Tengkurep Lemabang 3 Ilir Palembang.

 

Marilah kita susun dan buat silisilah zuriat (turunan) yang sebenarnya, agar supaya di kemudian hari, anak Negeri Palembang Darussalam mengetahui dari mana asal usul zuriat / turunan / zuriat kita, termasuk mengetahui lokasi makam-makam zuriat yang dibuat dalam silsilah, dan silsilah harus disaksikan oleh dua orang yang bersedia disumpah.

  1. Makam Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin di Ternate (Maluku Utara)

 

Gambar 7. Makam Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin di Ternate (Maluku Utara)

 

Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin bin Sultan Muhammad Bahauddin, diberi gelar oleh Pemerintah Republik Indonesia (Kepres RI no: 063 / TK / Tahun 1984, tanggal 29 Oktober 1984, Tentang Penganugrahan Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional) dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin II.

Beliau dilahirkan di Palembang pada malam Minggu, tanggal 1 Rajab 1181 (1767 M). Beliau diangkat menjadi Sultan Palembang Darussalam pada hari Selasa tanggal 22 Dzulhijjah 1218 (1803 M).

Beliau naik kapal pada Selasa malam, 3 Syawal 1236 dan berangkat dari Negeri Palembang Darussalam pada hari Rabu tanggal 4 Syawal 1236 (3 Juli 1821). Beliau wafat di Ternate pada hari Jum’at, tanggal 14 Syafar 1269 (26 November 1852) pukul 06.00 WIT pada usia 87 tahun, 7 bulan, 14 hari dan 7 jam dan dimakamkan di Ternate (Maluku Utara). Apabila dihitung perbedaan waktu antara Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Barat, maka waktu wafatnya menjadi pukul 04.00.

Makam Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II) di Ternate telah dipugar oleh pemerintah. Dan pada tahun 2002, makam tersebut kembali dipugar dengan biaya dari Pemerintah Sumatera Selatan dengan biaya APBD Propinsi Sumatera Selatan sebesar Rp. 300,000,000 (tiga ratus juta rupiah).

Makam Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (Komplek makam SMB II, diubah nama nisannya tahun 2009 oleh Ir. Radhin Iskandar Harun yang merupakan Ketua Umum HZKPD / Paguyuban).

Lokasi makam Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin di Ternate, Maluku Utara.

 

 

  1. Makam Talang Keranggo (Gubah Kuning)

Dimakamkan zuriat Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II), antara lain:

  1. Sri Paduka Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah bin Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin.

Beliau ikut diasingkan ke Ternate bersama Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II) dan wafat setelah pulang dari pengasingan di Ternate.

 

  1. Sri Paduka Pangeran Prabu Wikrama Abdurrahman bin Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II).

Beliau wafat setelah pulang dari pengasingan di Ternate.

 

  1. Sri Paduka Raden Nayu Salima Kerama Deratdjah binti Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II).

 

  1. Sri Paduka Raden Nayu Nazimah Keram Diwongson binti Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II).

 

  1. Sri Paduka Pangeran Kerama Deratdjah (Panglima Perang dan mantu Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II)).

 

  1. Sri Paduka Kemas Haji Muhammad Alim (Ulama dan mertua dari Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II)).

 

  1. Sri Paduka Kemas Haji Said (gugur dalam perang Palembang)

Syair Perang Palembang

*41* Kemas Said keluar menyerbu, amat gembira di dalam kalbu, mati sepuluh baris seribu, dekat pintu kota kemas nan rubuh.

*42* datanglah satu opsir mendekati, membedil Kemas tiada berhenti, pelurunya datang menuju hati, disanalah tempat Kemas nan mati.

  1. Sri Paduka Raden Haji Abdul Habib (Prabu Diratdjah II) bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah.

Beliau lahir di Ternate dan mencatat dari pelaku sejarah Kesultanan Palembang Darussalam di Ternate).

 

  1. Sri Paduka Raden Haji Sjarif (Prabu Diratdjah III) bin Raden Haji Abdul Habib (Prabu Diratdjah II).

Beliau merupakan salah seorang zuriat dari Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin yang diajukan dalam rangka pengangkatan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin II.

 

  1. Sri Paduka Raden Haji Abdul Hamid (Prabu Diratdjah IV) bin Raden Haji Sjarif (Prabu Diratjah III).

Beliau merupakan pendiri Kerukunan Keluarga Palembang dan membantu Pemerintah Daerah Sumatera Selatan dengan menunjukkan bukti-bukti otentik dalam pengangkatan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin II sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Lokasi makam di Jln. Kirangga Wirasentika, Palembang, di belakang kantor Pomdam II Sriwijaya Palembang. Makam sempat diperbesar dan diperbaiki pada bulan Rajab 1427 (Agustus 2006) oleh SMB III Prabu Diradja (Kombespol Drs. Raden Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H.) dan dicat dengan warna kuning pada hari Sabtu Kliwon, 18 Zulhijjah 1427. 9 Desember 2006, untuk mengenang Sri Paduka Raden Haji Sjarif (Prabu Diratdjah III) bin Raden Haji Abdul Habib (Prabu Diratdjah II) dan Sri Paduka Raden Haji Abdul Hamid (Prabu Diratdjah IV) bin Raden Haji Sjarif (Raden Prabu Diratdjah III) yang lahir di Singapura di Rumah Kuning (Gubah Kuning).

Sebagian lokasi makam telah dijual oleh orang yang mengaku sebagai ahli waris.

 

  1. Makam Kambang Koci

Dahulu, makam Kambang Koci terletak atau termasuk di komplek Pemakaman Kawah Tengkurep. Di lokasi tersebut dimakamkan putra-putri dari Sultan Palembang Darussalam. Sekarang, lokasi tersebut telah dibangun untuk kegiatan Peti Kemas Pelabuha Bom Baru Palembang. Diharapkan, makam-makam yang masih ada dapat diperhatikan dan tidak dipindahkan dengan alasan apapun juga.

Lokasi makam berada di Halaman Peti Kemas Bom Baru Palembang.

 

  1. Makam Pangeran Surya Alim

Dilokasi tersebut dimakamkan:

-          Sri Paduka Pangeran Bupati Panembahan Hamim, saudara kandung dari Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II).

-          Sri Paduka Pangeran Suryo Alim

-          Sri Paduka Pangeran Suryo Nandito

-          Sri Paduka Pangeran Singo Yudo

-          Sri Paduka Pangeran Gede Depati Wangsa (dikenal sebagai Pangeran Silo Penawar)

Dan makam lainnya dari para zuriat Kesultanan Palembang Darussalam.

Di tanah ungkonan zuriat Sultan-Sultan Palembang (Makam Pangeran Suryo Alim), seluas 40,000 meter (4hektar)  telah banyak diserobot oleh para pendatang yang mendirikan bangunan perumahan. Diharapkan lokasi tanah makam tersebut dapat dikembalikan sebagaimana mestinya.

Lokasi makam di Jl. Ratna Palembang

 

  1. Makam Pangeran Kesumo Subakti

Lokasi makam Sri Paduka Pangeran Kesumo Subakti bin Susuhunan Abdurrahman yang merupakan salah satu ungkonan Sultan Palembang. Sejak tahun 1970 telah banyak diambil oleh para pendatang, walaupun menurut Besluit Gernete Raad Van Palembang no. 73, tanggal 20 Juli 1934, tidak diperkenankan menguasai tanah pemakaman yang telah ditetapkan oleh Germente Palembang.

Lokasi makam terletak di 26 Ilir Palembang.

 

  1. Makam zuriat Pangeran Kerama Jaya Perdana Menteri

Sri Paduka Pangeran Kerama Jaya Perdana Menteri Abdul Azim. Beliau merupakan salah seorang Panglima Perang Kesultanan Palembang Darussalam dan menantu dari Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin. Beliau pernah diangkat Belanda sebagai pejabat Perdana Menteri di Palembang.

Oleh karena secara diam-diam selalu menentang Belanda, maka beliau dikeluarkan dari Palembang oleh Residen Diberu (Belanda) pada malam Rabu tanggal 1 Zulkaidah 1267 ke Probolinggo (Jawa Timur) dan wafat di Probolinggo.

Saat ini banyak yang mengaku sebagai ahli waris dan memperjual-belikan lokasi tanah makam tersebut. Pada tahun 2010, makam-makam keluarga banyak yang dibongkar dan dipindahkan entah kemana. Lokasi  tanah makam Keluarga Pangeran Kerama Jaya untuk dibangun menjadi kawasan pertokoan.