Aksara Kaganga , Tradisi Tulis yang Kurang Dilestarikan

414

Salah satu tradisi tulis Sumatera Selatan (Sumsel) yang kurang mendapat perhatian, kurang diedukasikan dan dilestarikan ialah tradisi tulis Aksara Kaganga. Menurut Afif Amirullah, Ketua Komunitas Pecinta Sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (RF) Palembang, dalam perkembangannya saat ini banyak di antara kita yang belum mengetahui dan mengenal Aksara Kaganga, padahal Aksara Kaganga merupakan warisan nenek moyang leluhur kita pada masa lalu.

Aksara Kaganga disebut juga dengan Aksara Ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di Hulu sungai dipedalaman. “Aksara Kaganga mulai berkembang sekitar abad ke-17 sampai abad ke-19 masehi,dan diperkirakan berkembang dari aksara Palawa,” katanya saat menjadi nara sumber dalam diskusi sejarah di Radio Trijaya Palembang, Selasa (5/12). Turut hadir Ahmad Rapanie dari Dinas Kebudayan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Ambo Illa Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang.

Menanggapi soal eksistensi Aksara Kaganga Ahmad Rapanie menjelaskan, “Bahwa ada terputusnya empat sampai lima generasi untuk Aksara Kaganga, sehingga apa yang telah ditinggalkan nenek moyang kita itu banyak yang tidak terbaca lagi, dan tidak menjadi tradisi lagi, kita mempunyai kekayaan naskah kuno,itu adalah hasil pemikiran ekpresi budaya, ekpresi ektetis nenek moyang leluhur kita”, katanya.