Bahasa Istana

Pada umumnya, baso dan tato keramo di dalam Kesultanan Palembang Darussalam sudah mulai luntur dan sudah banyak ditinggalkan atau dilupakan oleh masyarakat Palembang (Bahaso dan Tato Keramo antara orang muda dan orang yang dianggap lebih tua atau berbeda dengan yang seumur / seusia). Hal ini mungkin disebabkan oleh pengaruh budaya dari luar yang dianggap baik, padahal budaya dari luar ini belum tentu baik baik generasi penerus di Palembang (anak Negeri Palembang Darussalam).

Oleh karena itu baso dan tato keramo Palembang ini harus dipelajari, dihayati, dipertahankan, dan diamalkan oleh generasi penerus, sehingga mereka diharapkan mempunyai  adab, adat istiadat, sopan santun, dan etika yang baik di masa mendatang.

Bebaso Palembang Darussalam ini sudah mulai diajarkan pada anak-anak, bahkan diperlombakan diantaranya dalam lomba mengarang, menyanyi dan pidato bebaso Palembang Darussalam, termasuk mengartikan Surat Al-Quran dengan Baso Palembang. Kegiatan perlombaan tersebut diadakan selama 3 hari di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Palembang dan selesai pada tanggal 3 November 2003 / 8 Ramadhan 1424 oleh Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja.

Sekarang bebaso Palembang Darussalam ini mulai disosialisasikan kembali dengan menggelar bermacam-macam kegiatan. Dengan upaya dari Kesultanan Palembang Darussalam dan dibantu oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat Palembang Darussalam, Kesultanan Palembang Darussalam juga telah menyusun Kamus Baso Palembang yang diluncurkan pada hari Jum’at 28 November 2003 / 4 Syawal 1424. Peluncuran kamus tersebut bertepatan dengan hari keberangkatan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin II dari Palembang ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Ternate , Maluku Utara pada tahun 1821.