SMB IV Berharap Pemilihan Bujang Gadis SMAN 9 Palembang Perkuat Karakter

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn, Kamis (27/2) menghadiri acara Grand Final Bujang Gadis SMANBILPA 2020 di lapangan SMA Negeri 9 Palembang.

Sebelumnya Finalis Bujang Gadis SMAN (BGS) 9 Palembang dan para gurunya melakukan silaturahmi, belajar sejarah Palembang dan ikut merasakan tradisi makan khas Palembang yaitu Buluh Sebatang bersama Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Djayo Wikramo R.M. Fauwaz Diradja S.H. M.Kn, di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan.M. Mansyur No.776 32 Ilir Palembang, Sabtu (22/2).

Turut hadir Pangeran Nato, Pangeran Lukman dan Pengeran Suryo Vebri Irwansyah (Vebri Al Lintani).

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn, berharap pemilihan bujang gadis SMAN 9 Palembang dapat memperkuat karakter dan kreativitas siswa SMAN 9 Palembang untuk meningkatkan budaya di Palembang serta membawa nama baik untuk Palembang.

“Saya juga sempat memberikan hadiah kepada juara utamanya ,”katanya usai acara, Kamis (27/2).

Kegiatan SMAN 9 Palembang, menurutnya, harus dicontoh SMA lain di Kota Palembang. Dimana disitu para siswa tersebut belajar menjadi individu yang baik, mendapatkan wawasan dan belajar bagaimana rasanya berkompetisi, sehingga menjadi memiliki karakter bagi para generasi muda saat ini.

“SMAN 9 juga selama ini terkenal dengan sanggar teaternya, dan dikenal seluruh Palembang dan Sumsel. Dari itu karena teater mereka memiliki karakter, sehingga mereka lebih menguatkan bidang seni dan keperibadian mereka,” katanya.

Sumber Berita : Palpres.com

Ketika SMB IV Nobar Wayang Palembang Bersama Masyarakat, Forwida, dan Tiga Putra Kesayangannya

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV DJayo Wikramo RM Fauwaz Diraja, SH, Mkn ikut nonton bareng (nobar) wayang Palembang yang dibawakan oleh dalang Wirawan Rusdi bersama masyarakat Palembang dan pengurus Forum Pariwisata dan Kebudayaan (Forwida) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dalam rangka memeriahkan Festival Seguntang 2020 di taman wisata Seguntang Bukit Besar Palembang, Jumat (28/2) malam.

Palembang, BP–Era teknologi saat ini sudah merambah seluruh kehidupan masyarakat terutama generasi muda saat ini, akibat kebudayaan dan tradisi lama yang menjadi kearifan masyarakat masa lalu mulai menghilang.

Ada kejadian langka dimana seorang Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV DJayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn ikut nonton bareng (nobar) wayang Palembang yang dibawakan oleh dalang Wirawan Rusdi bersama masyarakat Palembang dan pengurus Forum Pariwisata dan Kebudayaan (Forwida) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dalam rangka memeriahkan Festival Seguntang 2020 di taman wisata Seguntang Bukit Besar Palembang, Jumat (28/2/2020) malam.

Hebatnya lagi, SMB IV tidak lupa membawa tiga buah hatinya, RM Ghozi Diradja (11), RM Husein Diradja (9), dan RM Izzat Diradja (7), untuk ikut menyaksikan pergelaran wayang Palembang tersebut.

Terlihat bagaimana ketiga putra SMB IV tersebut menikmati dan antusiasme menyaksikan wayang Palembang tersebut. Bukan itu saja, ketiga putra SMB IV usai pageralaran wayang Palembang ikut memegang wayang yang dibawakan sang dalang Wirawan Rusdi dan ikut berpoto bersama sang dalang.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV DJayo Wikramo RM Fauwaz Diraja, SH, Mkn mengatakan, sengaja membawa ketiga anaknya ke pagelaran Wayang Palembang, Jumat (28/2) malam, di Bukit Seguntang karena banyak anak-anak sekarang tidak tahu budaya Palembang terutama budaya lama yang ada di Palembang.

“Bahkan mengenal wayang itu mereka tahu dari Film Upin dan Ipin, jadi kalau bisa mereka tahu bahwa Palembang juga namanya wayang Palembang, walaupun pada saat ini cuma tinggal satu orang dalangnya,” katanya.
Ketiga anaknya tersebut menurut SMB IV, sangat antusias menyaksikan pagelaran wayang Palembang semalam.

“Bahwa anak-anak saya itu bisa tertawa dan mengerti bahasa Palembang walaupun memang pengucapan bahasa itu mereka masih tidak mengerti karena wayang ini bisa kita terapkan cara bicara bebaso, ketika yang muda dan yang tua berbicara cak mano, ketika berbicara dengan sesama teman bicara seperti apa, itu ada bebaso halus sama bebaso kraton , kalau di Jawa Kromo hinggil, kalau kita bebaso kraton tapi sebenarnya tidak jauh dari situ,” kata SMB IV.

Malahan ketiga anaknya tersebut menurut SMB IV  sempat memegang wayang Palembang yang dimainkan  dalang Wirawan Rusdi.

Untuk itu menurutnya SMB IV kedepan pihaknya akan membuat program supaya generasi penerus ini tertarik untuk bermain dengan wayang Palembang.

“Jadi kalau kedepannya kita akan mencoba agar anak-anak belajar membuat wayang dengan memotong kertas atau apa , akan kita suport supaya anak-anak mengenal budaya Palembang, walaupun wayang Palembang ini penokohannya itu dari Jawa seperti ada Punakawan, ada Yudistira, Krisna , istilahnya mereka mulai mengenal beberapa tokoh wayang , begitu tahu tokoh inti wayang, dan tokoh-tokoh yang biasa muncul, baru kita kenalkan tokoh-tokoh yang lain , nanti kita buat 10 atau 20 paket dululah untuk anak-anak,” katanya.

Sumber Berita : http://beritapagi.co.id

Berisi Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, Buku Hikayat Palembang Dibuat dalam Dua Bahasa

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Djayo Wikrama Fawaz Diradja SH Mkn bersama pihak terkait lainnya meluncurkan buku Hikayat Palembang di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Minggu (1/3/2020).

Buku yang berisi tentang sejarah berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam itu dibuat dalam dua bahasa.

“Buku Hikayat Palembang ini terdiri dari tulisan Arab Melayu dan huruf latin dengan Bahasa Indonesia,” kata SMB IV.

Acara peluncuran buku Hikayat Palembang di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Minggu (1/3/2020).
Acara peluncuran buku Hikayat Palembang di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam, Minggu (1/3/2020). (Tribunsumselwiki/Linda)

Buku ini berisi tentang sejarah berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam pada awal masanya sampai para sultan diadu domba oleh Belanda.

Sehingga kesultanan pun pecah dan melemah dan menguntungkan Belanda.

“Kita buat buku ini kerja sama dengan UIN Raden Fatah Palembang, Lembaga Kajian Melayu Pondok Pesantren Al Ittifaqiah, dan Kajian Reboan,” kata SMB IV yang sehari-hari berprofesi sebagai notaris.

Lebih lanjut ia mengatakan, buku tersebut diterbitkan dengan maksud menginformasikan kepada masyarakat bahwa Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki khasanah adat Melayu, yang bisa dijadikan identitas budaya.

Buku ini bertuliskan Arab-Melayu pada lembar sebelah kiri dan huruf latin pada lembar sebelah kanan.

Dua-duanya berbahasa Indonesia, dengan tebal 201 halaman.

Isi buku Hikayat Palembang yang ada tulisan Arab dan Bahasa Indonesia.
Isi buku Hikayat Palembang yang ada tulisan Arab dan Bahasa Indonesia. (istimewa)

Buku disunting oleh Muhammad Adil, Saudi Berlian, dan Kemas AR Panji.

“Kita bertahap mencetaknya. Sementara ini baru 200 eksemplar. Ke depan kita akan cetak 2000 eksemplar. Nanti akan kita bahas dulu, setelah itu baru dicetak banyak,” cetusnya.

Sementara itu, Kemas AR Panji, salah satu penyunting buku tersebut mengatakan, buku ini hasil kajian tim Majelis Reboan UIN Raden Fatah Palembang yang tergabung dalam lembaga kajian Melayu.

“Tim ini memang mengkaji naskah-naskah yang ditulis Arab-Melayu. Keprihatinan kami, mereka yang bisa membaca dan menulisnya golongan terbatas, yakni zaman old kalau istilah sekarang,” katanya

Kalau zaman now, generasi milenial banyak tidak tahu.

Makanya naskahnya dicetak ulang lalu dialihbahasakan.

Bagi mereka yang bisa Arab-Melayu, bisa membaca di lembar sebelah kiri.

Sedangkan yang tidak bisa, ada huruf latin di lembar kanan buku tersebut, sehingga mereka bisa belajar.

“Naskah yang kami tampilkan ini salah satu naskah Palembang, yang bercerita tentang Kesultanan Palembang Darussalam. Naskah ini ditulis Ki Rangga Satya Damita sekitar 1831-1832,” katanya.

Menurutnya, buku ini bagus untuk dimiliki masyarakat sebagai media pembelajaran dan pengetahuan.

“Kami berharap lembaga lain, termasuk pondok pesantren melakukan juga. Ini namanya literasi. Kami bertiga hanya menyunting. Tim ini banyak orang yang terlibat. Termasuk Sultan juga. Mereka yang melakukan kajian,” bebernya.

Untuk mendapat buku ini, masyarakat bisa menghubungi penyunting melalui media sosial seperti media sosial Instagram dengan akun @kemas_ari_panji.

“Harganya hanya Rp 70 ribu per eksemplar. Kalau menggunakan ongkos kirim, maka ongkosnya ditanggung pembeli,” katanya.



Artikel ini telah tayang di Tribuntribunsumselwiki.com dengan judul Berisi Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, Buku Hikayat Palembang Dibuat dalam Dua Bahasa, https://tribunsumselwiki.tribunnews.com/2020/03/03/berisi-sejarah-kesultanan-palembang-darussalam-buku-hikayat-palembang-dibuat-dalam-dua-bahasa?page=all.
Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy

JADIKAN MILAD KE 354 DAN 17 TAHUN KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM SEBAGAI MOMENT HARGA DIRI BANGSA

Bertempat di  Kompleks Pemakaman Cinde Welan (Caandi Walang), Kemarin (3/3) digelar Peringatan Milad ke-354 dan 17 Tahun Kebangkitan Kesultanan Palembang Darussalam, yang dilaksanakan oleh Panitia Bersama yang Terdiri dari Kesultanan Palembang Darussalam dan Ormas Palembang antara lain  AMKPD (Angkatan Muda Keluarga Palembang Darussalam), Forum Beroyot Palembang, Forum Silaturahmi Zuriat Buyut Lokan, HZKPD  (Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam), IKBMB (Ikatan Keluarga Besar Mangcik Bicik), KKP (Kerukunan Keluarga Palembang), KOPZIPS (Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Sumsel), PW MABMI SUMSEL (Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia Wilayah Sumsel), PERSADA BEGENAH (Persaudaraan Darussalam – Bergerak Karena Allah), PZP (Persatuan Zuriat Palembang), ZBPD (Zuriat Bangsawan Palembang Darussalam), ZURA (Zuriat Raden Akil).

Hadir Dalam kegiatan Milad ke-354 ini antara lain Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama, Para Ketua Ormas Palembang, Unsur Pemerintah, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Tamu Undangan Lainnya dari zuriat dan keluarga besar kesultanan.

Dalam Sambutan Ketua Panitia RHA Roni Azhari menyampaikan kiranya dalam gelaran Milad yang sederhana ini tetap mengedepankan semangat peduli dengan jejak sejarah dan kebangkitan mandiri sebagai bangsa yang beradab.

Tanggapan Sultan SMB IV dan Perwakilah Pemerintah, ataupun tokoh penting lainnya senada berikhtiar dan memandang sejarah tidak boleh tergerus jaman, mengingat kedaulatan berbangsa dan bernegara  harus mengedepankan prinsip sejajar dan persahabatan hakiki.

Dalam Wawancara Terpisah Via Selular,  Sejarawan Palembang, Kemas A.R. Panji, mengatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk peringatan ulang tahun berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) ke-354 bila dihitung dari tahun berdirinya tanggal jatuh pada hari ini pada tanggal 3 Maret 1666.

“Peringatan dan Perayaan Milad KPD ke 354, seperti yang tercatat saat ini pertama kali diawali dan digagas oleh R.M. Syafei Diradja (SMB III Prabu Diradja) yang selalu melaksanakan peringatan Milad dengan Berbagai acara sejak 17 tahun yang lalu (3 Maret 2003) yang diberi tajuk Periode Kebangkitan Kesultanan Palembang Darussalam”

Masih menurut Kemas Ari Panji bahwa ada perbedaan penggunaan istilah dalam perayaan “MILAD dan HAUL” Milad biasa digunakan untuk peringatan hari ulang tahun, sedangkan Haul adalah perayaan untuk memperingati hari wafatnya seorang Tokoh” jadi menurut hemat saya bahwa peringatan ini sudah tepat dan layak untuk dilaksanakan.

Mengenai Siapa yang berhak Menyelenggarakan Kegiatan Milad? Kemas ari menyatakan bahwa seluruh elemen (pemerintah, Organisasi/lembaga, dan Masyarakat) sangat di perbolehkan untuk Marayakan, baik secara madiri ataupun bersama-sama.

Hadir Dalam kegiatan Milad ke-354 ini antara lain Sultan Raden Muhammad Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn, Iskandar Mahmud Badaruddin sebagai Ketua Umum Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam (HZKPD), para Ketua Ormas Palembang, Unsur Pemerintah, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Tamu Undangan Lainnya.

Acara dimulai dengan pembacaan surah yasin dan tahlil oleh Ustadz RM.Hamdani dan Ustadz R.A Faisal lalu pembacaan manaqib Susuhunan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Imam oleh Ustadz Kms Andi Syarifuddin.

Gubernur Sumsel H Herman Deru diwakili Staf Ahli Gubernur bidang politik dan hukum, Dr KH Rosyidin Hasan,M.Pd.I menilai ritus budaya seperti peringatan milad (ulang tahun) pendiri Kesultanan Palembang Darussalam (KPD)

Susuhunan Abdurrahman Khalifatul…

Menurut Vebri Al Lintani bahwa Selamat Hari Jadi Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) ke-354 dilihat dari hari Proklamasi KPD yg jatuh pada tanggal 3 Maret 1666

Pada Tragedii 22 Agustus 1658, Ockersz, seorang Belanda yang mati terbunuh di negeri Palembang “ditujah dengan keris” di kapal De Wachter yang akan bongkar sauh. 42 orang Belanda lainnya dibunuh, 28 ditawan, 3 diantaranya kemudian mati, dan 24 lagi melarikan diri ke Jambi.” Peristiwa tragis ni membuat Belanda menyiapkan pasukan lebih kuat untuk menyerang Palembang.

Dan  di Tahun 1659 Palembang diserang dengan kekuatan yang lebih hebat dan dapat dikuasai. Kuto Gawang dibumihanguskan oleh Belanda. Rajanya Pangeran Sido Ing Rejek mengasingkan diri Sako Tigo (Ogan Ilir). Adiknya Ki Mas Endi, kemudian menggabtikan peran sang Kakak sbg Raja (sultan) Palembang Darussalam.

Adanya konflik Palembang dengan Belanda dan Jambi begitu menguras tenaga dan diatasi sendiri oleh Palembang tanpa kehadiran Mataram yang mengklaim sebagai vazaal atau pelindung. Oleh karena itu, Ki Mas Endi, kemudian mendirikan Kesultanan Palembang Darussalam yang berdaulat dan mandiri, lepas dari vazaal Jawa pada 3 Maret 1666.

Lepasnya Palembang dari Jawa bukan hanya dari sisi politik namun juga pada orientasi kebudayaan yang menerapkan konsrp kebudayaan Melayu Islam.

Maka, akan sangat baik jika Pemeintah Kota Palembang ikut juga memeringati hari jadi KPD ini selain hari jadi yang berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, 17 Juni 683 M (seharusnya 16 Juni 682 M). Tak dapat dipungkiri, KPD telah meninggalkan warisan budaga yang nyata dan dinikmati oleh Pemkot. Kawasan bangunan di sekitar Benteng Kuto Besak, Kantor Ledeng, Rumah Siput (Museum SMB II), Masjid Agung dan kawasan Kampung Sekanak adalah kawasan pusat kekuasaan KPD yang sekarang digunakan oleh Pemkot Palembang dan Kodam II secara cuma-cuma.

Sebenarnya, peringatan hari jadi KPD sudah dimulai sejak 3 Maret 2003 oleh SMB III Prabudiradja (RM Syafei Diradja) yg juga secara kebetulan mencanangkan kebangkitan KPD yg dikelolanya pada tanggal yang sama. Saat ini peringatan tsb dilanjutkan oleh SMB IV R.M. Fauwaz Diraja dan para zuriat lainnya.(Ekobepe)

Sumber berita : lintasperistiwa.com

Dampak Asian Games, Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Naik Signifikan

Palembang- Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan bakal terdongkrak signifikan pada triwulan III 2018 karena dipengaruhi adanya ajang akbar Asian Games XVIII pada pertengahan Agustus.

Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumsel Hari Widodo di Palembang, Senin, mengatakan, bukan hanya di triwulan III, kehadiran Asian Games juga akan berkontribusi terhadap peningkatan berbagai sektor ekonomi pada triwulan IV 2018.

“Seperti halnya SEA Games 2011 yang berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi Sumsel, begitu pula dengan Asian Games,” kata Hari.

Menurut Hari kepada Antara, sektor pariwisata yang diperkirakan bakal berpengaruh besar pada perekonomian Sumsel dari mulai Asian Games hingga akhir tahun.

Hal ini karena Kota Palembang melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sektor pariwisata, seperti pesta rakyat, sejumlah acara di destinasi wisata baru. Selain itu, adanya kemudahan transfortasi dengan keberadaan Light Rail Transit di Palembang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Sektor pariwisata ini akan menjadi sektor baru yang cukup menjanjikan di masa datang. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Sumsel dipacu oleh pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, sektor kontruksi, sektor perdagangan besar,” kata dia.

Sumber Berita : http://www.industry.co.id

Kemenhub Evaluasi Operasional LRT Palembang

Kementerian Perhubungan mengevaluasi secara penyeluruh operasional kereta api ringan (LRT) Palembang untuk merespon kejadian berhenti mendadak saat membawa ratusan penumpang Minggu (12/8) sore.

Dirjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan Zulfikri di Palembang, Senin, dalam keterangan pers terkait kejadian ini mengatakan, evaluasi ini diharapkan dapat memperbaiki kinerja operasional LRT secara keseluruhan.

“Saat ini kami masih melakukan investigasi untuk mencari penyebab sebenarnya mengapa bisa berhenti mendadak. Sejauh ini dugaan awal karena terjadi shortcircuit atau arus pendek yang menyebabkan adanya kabel CCD di sarana (kereta api) yang putus,” kata dia.

Ia mengatakan LRT Palembang yang memiliki pusat pengendali Train Control Management System secara otomatis akan berhenti beroperasi sistem membaca terjadi kegagalan terkait keselamatan. Kondisi seperti ini sejatinya juga terjadi di dua masalah sebelumnya sejak LRT resmi beroperasi membawa penumpang pada 23 Juli 2018. Pada 1 Agustus 2018, LRT Palembang berhenti mendadak di dua kilometer sebelum Stasiun Jakabaring akibat pintu tidak dapat ditutup lantaran sensor keselamatan sangat sensitif. “Kereta terpaksa berhenti karena apabila pintu tidak tertutup sempurna maka masinis kereta tidak bisa menjalankan keretanya dan harus mengecek pintu agar tertutup sempurna,” kata dia.

Kemudian pada 10 Agustus 2018, LRT juga kembali berhenti mendadak di Stasiun Bumi Sriwijaya karena VDU (Vehicle Display Unit) yang tidak dapat membaca posisi kereta. Terhadap tiga kejadian ini, dilakukan evakuasi penumpang karena kejadian kereta berhenti telah melebihi 20 menit. Penumpang kemudian digiring petugas melintasi jalur pejalan kaki yang ada di sisi rel yang aman dari arus listrik untuk menuju stasiun terdekat, seperti sempat viral di media sosial.

Sumber Berita : www.wartaekonomi.co.id

Benteng Kuto Besak, Melihat Kejayaan Palembang Lampau

BENTENG Kuto Besak menjadi saksi bisu kekuatan Kesultanan Palembang Darussalam. Penggagas benteng tersebut adalah Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) kemudian pengerjaannya diselesaikan oleh Sultan Mahmud Bahauddin (1776-1803).

Pada masa itu Kota Palembang dikelilingi anak sungai sehingga membuat wilayah kota seperti pulau-pulau. Sementara Kuto Besak saat itu dibangun di atas pulau yang dibatasi Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Benteng Kuto Besak juga menjadi bangunan yang masih tersisa dari Kesultanan Palembang Darussalam selain Masjid Agung. Hal itu karena dulu banyak peninggalan kesultanan dibumihangsukan oleh tentara Belanda.

Kini Benteng Kuto Besak menjadi tujuan favorit saat berlibur ke Palembang. Bahkan benteng ini menjadi satu dari 10 destinasi yang disiapkan Sumatera Selatan untuk Peserta Asian Games 2018.

Pihak pemerintah juga telah menata sedemikian rupa kawasan pelataran di depan Benteng Kuto Besak menjadi sebuah plaza atau alun-alun. Terkadang tempat tersebut menjadi lokasi acara atau festival dengan panggung hiburan.

Saat malam tiba akan ada banyak pedagang menjajakan barang dagangannya. Sehingga bagi para pelancong yang ingin mencari kuliner khas Palembang seperti pempek bisa mencicipinya di sana.

Lokasi Benteng Kuto Besak persis menghadap Sungai Musi dan tak jauh dari Jembatan Ampera. Ini yang membuat Benteng Kuto Besak menjadi destinasi favorit para pelancong. Ada beberapa pilihan kendaraan seperti taksi, angkot atau bisa juga menggunakan Trans Musi.

Bicara soal biaya, untuk masuk ke Benteng Kuto Besak pengunjung akan dikenakan tarif Rp 5 ribu. Namun jika membawa rombongan kamu bisa nego untuk meminta harga lebih murah.

Selain mencari spot cantik untuk berfoto di sana, kamu juga dapat bermain wisata Sungai Musi yang letaknya persis di depan benteng. Jika ingin bermalam ada banyak penginapan di dekat Benteng Kuto Besak.

Sumber : merahputih.com

Palembang bangga punyai LRT pertama di Indonesia

Sultan Palembang diberi kesempatan berbincang sejenak saat kunjungan kerja Pak Jokowi ke Palembang untuk memastikan persiapan LRT pertama di Palembang dibangun tanpa kendala.

Belanda Harus 4 Kali Perang untuk Mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin II

Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai Perang Menteng meletus pada 12 Juni 1819 yang melibatkan pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II dan pasukan Komisaris Edelheer Muntinghe. Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan pemimpin kesultanan Palembang Darussalam tahun 1803-1813 dan 1818-1821, atau dua periode.

Edelheer Mutinghe merupakan seorang komisaris di Palembang setelah Konvensi London 13 Agustus 1814 yang mengharuskan Inggris menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803 dan pada 19 Agustus 1816 Palembang diserahkan kepada Belanda.

Setelah diangkat menjadi komisaris di Palembang, Dosen Sejarah di Universitas PGRI Palembang Kemas A. R. Panji dalam Sultanku, Mahmud Badaruddin II, menyebut tindakan pertama yang dilakukan Mutinghe ialah mengangkat kembali Sultan Mahmud Badaruddin II naik tahta pada 7 Juni 1818.

Sementara itu, Husin Diauddin yang pernah bersekutu dengan Inggris diasingkan oleh Mutinghe untuk keluar dari Palembang menuju Batavia.

Namun pada perkembangannya, Mutinghe meminta Putra Mahkota diserahkan kepada dirinya. Permintaan Mutinghe tak diindahkan Sultan Mahmid Badaruddin II. Dan sejak saat itu penyerangan terhadap Belanda dilancarkan. Perang ini dikenal sebagai Perang Menteng atau Perang Palembang yang meletus pada 12 Juni 1819.

Palembang tampil sebagai pemenang dalam Perang Menteng. Belanda kemudian tidak terima. Sehingga pada 21 Oktober 1819, Belanda kembali menyerang Palembang. Sial bagi Belanda, serangan kali ini juga gagal. Demikian pula serangan ketiga kalinya, juga mendapatkan kekalahan.

Namun pada serangan keempat, seperti ditulis Kemas A. R. Panji, Belanda berhasil menang lantaran curang karena melakukan serangan mendadak ketika rakyat Palembang sedang makan sahur dan kebetulan terjadi di bulan ramadhan. Setelah melewati perlawanan sengit dari rakyat, akhirnya pada 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Sejak saat itu Belanda leluasa mengibarkan bendera negaranya sekaligus menandai kolonialisme Hindia Belanda di tanah Palembang.

Kendati kalah, Sultan Mahmud Badaruddin II tidak pernah membuat surat pengakuan kalah perang ataupun menyerahkan kekuasaan kepada Belanda. Dan akhirnya, dia bersama keluarganya ditangkap dan dibuang ke Batavia menggunakan kapal Dageraad. Dari Batavia Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarganya diasingkan ke Ternate sampai akhir hayatnya pada 26 November 1862.

Berikut petikan Syair Perang Menteng:

Kemas Said keluar menyerbu
amat gembira di dalam kalbu 
mati sepuluh baris seribu 
dekat pintu kota Kemas nan rubuh 
Datanglah satu opsir mendekati 
membedil Kemas tiada berhenti 
pelurunya datang menuju hati 
di sanalah tempat Kemas nan mati.

Sumber : Nusantaranews.co

Gubernur Sumsel Resmikan Galeri Bukit Siguntang

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin meresmikan Galeri Bukit Siguntang yang berlokasi di situs wisata sejarah Bukit Siguntang,Selasa (26/6). Galeri tersebut akan memberikan kemudahan dan pengetahuan bagi wisatawan yang datang untuk mengetahui perkembangan dan sejarah Sumsel.

Isi Galeri Bukit Siguntang bisa disebut multikomponen side karena terdapat peninggalan masa Sriwijaya yang ditemukan berupa struktur batu bata, arca padat dan arca Sakyamuni, termasuk prasasti Bukit Siguntang serta keramik-keramik yang menjadi bukti adanya peribadatan karena terdapat guci-guci yang biasa dipakai para bhiksu dan temuan keramik masa kesultanan karena Bukit Siguntang menjadi tempat persumpahan para Adipati yang berkumpul di Bukit Siguntang.

“Ini salah satu destinasi wisata, walaupun masih banyak hal yang mesti dibenahi tetapi gagasan ini bagus. Dahulu tempat ini menjadi pusat agama Budha dan pada zaman kesultanan Palembang Darussalam merupakan tempat berkumpulnya para adipati-adipati,” ungkap Alex Noerdin disela peresmian Galeri.

Lanjut Alex Noerdin, Bukit Siguntang merupakan situs wisata sejarah dan bentang alam tertinggi di Kota Palembang dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan untuk menarik wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara.

Menurutnya, penataan Bukit Siguntang harus terus berlanjut agar senantiasa menarik, aman, dan nyaman bagi wisatawan seperti pusat informasi, Galeri, Kedai-Kedai Kopi dan sebagainya yang bertujuan menampilkan sisi lain dari Bukit Siguntang sebagai destinasi wisata sejarah.

“Peresmian Galeri ini adalah langkah lompatan yang besar namun harus diiringi juga dengan SDM yang profesional. Ini aset yang luar biasa seluas 16 Hektare di titik paling tinggi Kota Palembang.Dinamakan Bukit Siguntang karena artinya mengapung, terlihat dari jauh seperti mengapung,” terang Alex.

Ini benar-benar kawasan yang luar biasa. Dapunta Hyang dulu membuat pemukiman di kaki bukit ini yang akhirnya menjadi kerajaan maritim terbesar saat itu. Kemudian, dimasa Kesultanan Palembang Darussalam menjadi tempat berkumpulnya para adipati-adipati. Jadi, ini menyimpan banyak sejarah,” lanjut Alex.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel, Irene Camelyn mengatakan dalam Galeri Bukit Siguntang terdapat informasi bagi masyarakat bahwa Bukit Siguntang memiliki arti penting bagi sejarah melayu sebagai tempat turunnya raja-raja melayu.

“Galeri ini memicu kita semua untuk menghargai dan memelihara budaya masa lampau sebagai bekal budaya masa depan. Bagaimana kita menyongsong budaya masa depan haruslah berawal dari budaya masa lampau,” ujarnya. (ril/el)

Sumber berita : https://penasumatera.co.id/gubernur-sumsel-resmikan-galeri-bukit-siguntang/