Kesimpulan

Dari uraian singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang menentang, menghalang-halangi bangkitnya Kesultanan Palembang Darussalam dapat digolongkan sebagai berikut:

1.  Mereka tidak mengetahui / tidak mau mengetahui proses bangkitnya Kesultanan Palembang Darussalam, sampai dengan dikukuhkannya Sultan Palembang Darussalam.

2.  Mereka tidak mengetahui Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam bahwa Kesultanan Palembang Darussalam itu secara Adat Istiadat Kesultanan Palembang Darussalam masih ada, karena Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II) tidak pernah membuat surat kalah perang melawan Belanda (tidak pernah menyerah atau tidak pernah membuat perjanjian-perjanjian, yang biasanya dibuat dan ditandatangani apabila kalah dalam berperang, baik berupa Lange Verklaring maupun Korte Verklaring dengan Belanda).

3.  Mereka kemungkinan besar mempunyai latar belakang keluarga / zuriat yang bekerjasama atau kaki tangan Belanda untuk menentang Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II) sehingga Sri Paduka serta keluarganya dapat dikeluarkan dari Negeri Palembang Darussalam dan untuk selanjutnya Belanda mengangkat keluarga / zuriat mereka yang mudah diperalat oleh Belanda (Golongan Darah Putih / kaki tangan Belanda / penjajah), dan sifat memecah belah, adu domba, hasut menghasut, iri hati dan dengki masih samapi sekarang melekat pada zuriat/ keturunan mereka. (Diharapkan untuk masa mendatang agar mereka mulai insyaf dan bertobat pada Allah SWT atas perbuatan keluarga dan zuriatnya selama ini, dan supaya Negeri Palembang Darussalam menjadi nyaman, sejuk dan penuh perdamaian.)

4.  Mereka langsung atau tidak langsung turut serta menyimpangkan dan menghilangkan fakta-fakta sejarah (memegang, menyimpan, menghancurkan, mengamil, menjual-belikan) peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam supaya anak Negeri Palembang Darussalam menjadi hilang identitas di masa mendatang (tidak ada yang dapat dibanggakan) dan mereka takut akan dituntut atau mereka takut ketahuan atas perbuatannya.

5.  Mereka bukan zuriat Sultan Palembang Darussalam, khususnya zuriat Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin / SMB II (orang luar/ pendatang dan tidak termasuk dalam zuriat atau kerabat Kesultanan Palembang Darussalam yang selama ini telah menggunakan dan memakai serta menyalahgunakan gelar-gelar Kesultanan Palembang Darussalam.).

6.  Mereka merasa terganggu, tersaingi, resah dengan bangkitnya Kesultanan Palembang Darussalam karena selama ini mereke merasa dirinya sebagai tokoh masyarakat Palembang serta mengaku sebagai Sultan Palembang atau merasa berhak menjadi Sultan Palembang Darussalam, tetapi tidak sadar bahwa mereka tidak memenuhi persyaratan berdasarkan dari pedoman, penelitian dan penilaian yang telah dibuat oleh Majlis Musyawarah Adat Palembang Darussalam (yang sekarang menjadi Majelis Musyawarah Adat Kesultanan Palembang Darussalam).

7.  Mereka sengaja dimasukkan / didorong / disusupkan oleh pihak-pihak tertentu / golongan tertentu untuk menyimpangkan sejarah dan menghilangkan atau menghancurkan fakta-fakta peninggalan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam termasuk menentang dan mencegah bangkitnya Kesultanan Palembang Darussalam. Karena apabila kegiatan Kesultanan Palembang Darussalam terus maju, maka kegiatan pihak atau golongan tertentu menjadi terhambat dan terganggu (kegiatan mereka ini kurang disadari oleh para pejabat atau anak Negeri Palembang Darussalam).

8.  Mereka menderita penyakit tertentu / gila sanjungan / tambeng dan tidak mengerti salah atau benar (bingung / linglung / tidak sadar) bahwa perbuatannya menyimpang dari adab, adat istiadat Budaya Kesultanan Palembang Darussalam terutama budaya malu / Semon Palembang.