Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

17

Sebagai Kerajaan Islam yg berdaulat, tentunya Kesultanan Palembang Darussalam mendapatkan pengakuan dan legalitas dari kerajaan-kerajaan lainnya.

Legitimasi Kesultanan Palembang telah diakui oleh Kesultanan Turki Usmani (Ottoman) sebagai pusat khilafah Islamiah pada waktu itu.

Islam menjadi agama resmi kerajaan, termasuk perangkat penting Kesultanan Palembang seperti lambang dan semboyan, cap stempel, meriam, uang koin dan lainnya memiliki simbol islami, menggunakan aksara Arab-Melayu.
Menurut pengamat sejarah kota Palembang Kms. H.Andi Syarifuddin Kesultanan Palembang pada masanya dikenal sebagai negeri yg aman, makmur dan sejahtera (Darussalam).

Dalam bidang ekonomi, Kesultanan Palembang telah menjalin jaringan perdagangan ke negeri luar, bahkan sampai ke manca negara.

“Kesultanan Palembang Darussalam sudah memiliki dan mengeluarkan sendiri koin mata uang sebagai alat pembayaran yg sah, selain dolar Spanyol yg resmi berlaku saat itu,” katanya.

Menurutnya, mata uang Kesultanan Palembang disebut “pitis”. Setidaknya telah diproduksi sejak abad ke 16 M, dalam berbagai ukuran dan corak.

Uang ini bentuknya berupa logam atau koin potongan pelat yg terbuat dari coran campuran timah hitam dan timah putih. Koin ini ditengahnya ada yg memiliki lobang berbentuk kotak atau bulat, lalu dirangkai dalam ikatan paket-paket yg masing-masing pengikatnya terdiri dari 5 keping. Tidak disebutkan nilai tukarnya masing-masing.

Meskipun demikian, nilai nominal pitis ini sebagaimana menurut kesaksian orientalis Inggris, W. Marsden, dalam bukunya The History of Sumatra yang ditulisnya dalam tahun 1783, menyebutkan bahwa: 16 keping duit pitis ini nilainya sama dengan 1 dolar.

“Dalam mengukur nilai emas, 1 tail dianggap sebagai sepersepuluh kati (satu sepertiga pon) atau setara dg yang seberat dua seperempat dolar Spanyol,” “katanya.

Mata uang Kesultanan Palembang Darussalam menurutnya, bertuliskan aksara dan bahasa Arab yg dicetak hanya satu sisi bagian atasnya saja, sedangkan bagian belakangnya dibiarkan polos. Salahsatu contoh duit ini tertulis: “Al-Sultan fi balad Palembang sanah 1163” (Sultan di negeri Palembang tahun 1163 H/1749 M).