Ratib Samman, Amalan Resmi Kesultanan Palembang

62

Dilansir dari http://beritapagi.co.id/2017/09/25/ratib-samman.html

Para Sultan Palembang dikenal sangat alim, bijaksana, dan agamis. Oleh karenanya, segala urusan pemerintahan kesultanan tentunya diatur menurut ketentuan syari’at. Islam agama yg kaffah, baik zhahir maupun batin. Aspek zhahir (lahiriah) dikaji melalui disiplin ilmu syari’at atau fiqih, sedangkan aspek batin melalui ilmu tasawuf atau tarekat. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda: “Syari’at itu adalah perkataanku, Tarekat itu adalah perbuatanku, Hakekat itu adalah budi pekertiku, dan Ma’rifat itu adalah pokok/modal kekayaanku. ” (HR. Anas bin Malik).

Pengamat sejarah kota Palembang Kms. H.Andi Syarifuddin mengatakan, banyak dalil al-Qur’an maupun Hadis ttg Tarekat. Salahsatu Tarekat Mu’tabarah yg cukup populer didunia Islam dan termasuk di Palembang adalah Tarekat Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah dinisbahkan kepada pengasasnya Syekh Muhammad Samman bin Abdul Karim al-Madani (1718-1776) seorang ulama sufi, waliyullah di Madinah. Salahsatu zikir terpenting dalam Tarekat Sammaniyah adalah “Ratib Samman”.

“Banyak ulama Palembang yg berguru langsung dan mendapat ijazah Ratib Samman ini dari Syekh Muhammad Samman, di antaranya: Syekh Abdus Somad al-Palembani (1737-1832), Syekh Kemas Ahmad bin Abdullah (1735-1800), Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin dan lainya. Para ulama Palembang ini berdakwah menyiarkan Ratib Samman pada masyarakat & di kalangan istana, sehingga Sultan Palembang pun mendapat ijazah mengamalkan Ratib Samman tersebut,” katanya, Senin (25/9).

Menurutnya, di zaman Sultan Muhammad Bahauddin (merintah: 1776-1803), Paduka turut andil memberikan wakaf bantuan mendirikan zawiyah (pondok) Sammaniyah di Jeddah dalam th 1777 dg biaya sebesar 500 Riyal yg beliau transfer melalui Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin 2 th setelah Syekh Muhammad Samman wafat.

Andi Syarifuddin

“Sedang di zaman Sri Sultan Suhunan Ratu Mahmud Badaruddin (merintah: 1803-1821), terjadi peristiwa perang suci Palembang melawan Belanda dalam tahun 1819 yang dikenal dengang perang Menteng, pertempuran paling dahsyat pada waktu itu yg dimenangkan oleh Kesultanan Palembang,” katanya.

Saat itu menurutnya, Sri Sultan Mahmud Badaruddin menitahkan kepada seluruh rakyatnya utk terlebih dahulu melaksanakan zikir Ratib Samman di Masjid Agung dan keraton.“Pasukan jihad yg dipimpin oleh menantu Syekh Abdus Somad yg bernama Kiagus M.Zen ini setelah berzikir Ratib Samman menyerbu pasukan Belanda dengan gagah berani tanpa mengenal rasa takut,” katanya.

Dan peristiwa heroik ini direkam dalam sebuah manuskrip Palembang sebagai berikut :
“…Adapun segala haji-haji pada masa itu semuanya kumpul di luar Kuto duduk di pemarakan luar semuanya dengan senjata lengkap. Haji-haji itu semuanya pada berzikir dan beratib Samman terlalu ramainya… ”

Demikianlah, zikir Ratib Samman ini menjadi amalan resmi di Kesultanan Palembang Darussalam. Selain sebagai ibadat, Ratib Samman juga menjadi adat. Banyak pengikutnya di Palembang sampai sekarang.#osk