Sejarah Jembatan Ampera Palembang

740

Jika Jakarta identik dengan tugu monas, maka palembang identik dengan jembatan ampera sebagai ikon kota. Masyarakat kota Palembang sepakat, jembatan yang menghubungkan wilayah seberang ilir dan seberang ulu ini merupakan simbol kota yang menjadi kebanggaan masyarakat Palembang. Tak heran jika tempat ini dijadikan lokasi utama untuk mengamati fenomena alam langka gerhana matahari total yang terjadi 9 Maret 2016.

Jembatan Ampera mempunyai panjang lebih dari 1000 meter dengan lebar 22 meter (4 lajur kendaraan), dengan ketinggian mencapai 63 meter. Pada masanya jembatan Ampera tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Ide pembangunan jembatan ampera sebenarnya sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial belanda di tahun 1906, dengan tujuan utama untuk menghubungkan dua daerah di palembang yang terpisah oleh sungai Musi, yaitu seberang ilir dengan seberang ulu. Namun ide tersebut baru terealisasi pada tahun 1957.

Di awal pembangunanya, jembatan ampera sengaja dirancang agar bagian tengah jembatan bisa diangkat sehingga kapal-kapal besar bisa melintas sungai musi tanpa tersangkut badan jembatan. Pengangkatan badan jembatan dilakukan dengan cara mekanis, yaitu degan menggunakan dua bandul pemberat yang masing-masing mempunyai bobot sekitar 500 ton, bandul tersebut terdapat di kedua menaranya. Kecepatan membukan jembatan sekitar 10 meter/ menit, dan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk membuka jembatan secara penuh.

Kini jembatan Ampera sudah tidak dibuka kembali, selain sudah tidak dilintasi perahu besar, waktu yang lama untuk membuka jembatan akan mengganggu arus lalu lintas yang ada di atasnya. Saat fungsi terbuka jembatan tidak digunakan lagi, maka bandul seberat 500 ton yang ada di kedua menara jembatan diturunkan, hal tersbut dilakukan demi pertimbangan keamanan.

Selain mempunyai fungsi yang sentral dalam menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan sungai Musi, jembatan Ampera juga mempunyai sejarah panjang keberadaannya. Di awal berdirinya, jembatan ampera diberi nama jembatan musi, mengingat jembatan ini melintas di antara dua wilayah yang dipisahkan sungai musi. Kemudian nama tersebut juga sempat diganti menjadi menjadi Jembatan bung Karno, sebagai penghormatan kepada Sukarno yang dianggap berperan besar bagi bedirinya jembatan.

Persoalan politik di tanah air kemudian mengubah nama jembatan Bung Karno menjadi jembatan Ampera. Ampera merupakan akronim dari Amanat Penderitaan Rakyat. Ampera merupakan slogan yang kerap dipakai oleh Sukarno yang mengillmahi perjuanganya memimpin negara untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Sebagai ikon kota Palembang, Jembatan Ampera terus mengalami perubahan dan peremajaan. Jembatan Ampera di kala malam akan dihiasi lampu-lampu sehingga nampak indah dan eksotis. Banyak yang berpendapat, menyaksikan jembatan ampera di kala malam seperti menyaksikan eksotika venesia di Italia. Dari atas jembatan ampera akan terlihat Benteng Kuto Besak yang masih kokoh berdiri. Sementara plasa benteng kuto besak terdapat pasar kuliner malam yang selalu dipenuhi para pengunjung. Tak heran jika banyak yang berpendapat, melancong ke Palembang belum lengkap jika belum menyaksikan keindahan jembatan ampera di malam hari.

Sumber : www.liputan6.com