Sejarah Sriwijaya Tak Boleh Hilang Dari Ingatan Anak Muda Palembang

176

Mengenal perjalanan sejarah tidak meski digelar dalam forum-forum serius. Buktinya, anak muda Palembang makin sering membahas Kerajaan Sriwijaya lebih kekinian.

Sabtu (20/1) sore, tiga komunitas anak muda Palembang menggelar obrolan kekinian perkembangan Sriwijaya di salah satu kedai kopi, di Palembang.

Panitia Penyelenggara, Hardi mengatakan mengenal sejarah, terutama budaya hendaknya terus dilakukan. Namun, perkembangan waktu, generasi muda lebih suka pada forum-forum kegiatan yang lebih santai namun mengena.

Karena itu, beberapa komunitas menginisiasikan menggelar obrolan sejarah, terutama Sriwijaya lebih kekinian. 

“Maksud kekinian, ialah forum dikemas lebih santai, lebih komunikatif dengan obrolan yang ala gaya anak muda,” katanya.

Hadir sebagai Pemateri budaya dalam Ngobrol Asyik Kekinian tersebut, Yudhie Sarofie, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Sumsel.

Yudhie memaparkan, sejarah kerjaaan Sriwijaya hendaknya makin sering diulas. Pengetahuan akan Sriwijaya makin dikenalkan pada anak muda, terutama di Palembang. 

Kota Palembang memiliki historis kuat akan bukti perkembangan Sriwijaya, terutama mencapai puncaknya di abad 7.

“Bukti sejarah, temuan prasasti makin menguatkan, Palembang pernah menjadi pusat Sriwijaya pada masanya. Berbagai temuan menguatkan dan secara konsersium internasional juga telah dideklarasikan. Nilai-nlai itu hendaknya diketahui oleh generasi muda,” katanya. 

Meski proses penyampaian lebih santai, Yudhie menambahkan sejarah Sriwijaya tidak boleh hilang pada generasi di Palembang. Temuan-temuan seperti Prasasti Talang Tuwo, Kota Kapur di Bangka makin menguatkan Sriwijaya pernah berjaya dan berkembang di Palembang. 

“Penyebab Sriwijaya redup, fakta sejarahnya masih harus dikuatkan. Namun asumsi adanya pergerakkan masyarakat Sriwijaya ke utara, menghasilkan persepsi yang beragam akan akhir Sriwijaya di Palembang,” terang dia.

Dalam catatan berita China, diketahui Pangeran Cheng-Ho sempat tujuh kali ke Kerajaan Sriwijaya. Dikatakan Yudhi, kehadirannya lebih untuk penguatan kerjasama kewilayahan, termasuk misi memperkuat jalur maritim Asia atas gejolak dari perang di Eropa dan sekitarnya.

“Kisah sejarah demikian hendaknya lebih diulas dan dikenal banyak,anak muda di Palembang,” pungkasnya.

Sumber : Gatra.com