30 C
palembang
Thursday, October 19, 2017

Syair ini menggambarkan / menceritakan situasi dan kondisi pada waktu perlawanan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (Sultan Mahmud Badaruddin II) melawan penjajah Belanda yang dipimpin oleh Letnan Jendral Baron De Kock, sehingga Sri Paduka beserta keluarga dan para kerabatnya keluar dari negeri Palembang Darussalam dengan dipaksa untuk naik kapal pada hari Selasa malam tanggal 3 Syawal 1236 dan berangkat / diasingkan ke Ternate pada hari Rabu tanggal 4 Syawal 1236 / 3 Juli 1821.

 

Sultan Mahmud Badaruddin yang punya negeri

Datanglah musuh tidak berperi

Dengan takdir Tuhan yang qohari

Pindahlah ia ke lain negeri

Dari Palembang ke Ternati

Diamlah disana berbuat bakti

Jikalau iman kurang mengerti

Rusaklah badan serta hari

Rusak badan pada itu ketika

Karena berperang dengan kapir celaka

Tetapi jikalau tidak didaulat belaka

Niscaya menang pula Sri Paduka

Syair ini dibuat pada tanggal 9 Syawal 1316 oleh cucu Sultan Mahmud Badaruddin II yang lahir di Ternate yaitu Raden Haji Abdul Habib Prabu Diratdjah bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah bin Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II). Supaya diingat oleh anak Negeri Palembang Darussalam

Murid Pangeran Suryo Muhammad Arsyad

Raden Abdul Habib yaitu

Atas kediaman tidaklah tentu

Banyaklah anak mantu

Itupun tidak di negeri satu

Ada Palembang, Banyuwangi negeri

Ada juga yang belum beristri

Ada di Mekkah hendak digari

Ketika itulah menuliskan peri

Perihal seperti cerita

Supaya diketahui oleh anak cucu kita

Dari mana asal keturunan kita

Janganlah berbuat piil yang lata

Piil yang lata sudah terperi

Beserta pula yang membesarkan diri

Pakailah ilmu alim yang bahari

Inilah yang dipesan malam dan hari

Malam dan hari ketika bersama

Talmizi dari Pangeran Suryo Kesumo

Beserta dipesan oleh Paduka Kerama (SMB II)

Saudara mufakat yang terutama

Terutama fiil kelakuan

Jikalau tidak akhirnya tak keruan

Beberapa banyak kenyataan

Negeri diperintah oleh Hulanda syaitan

Palembang Darussalam, 9 Syawal 1316

Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja

Drs. Raden Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H.

Raden Muhammad Sjafei Prabu Diradja

Digelar Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja

Sehari-hari dipanggil Den Bagus sebutan

Bin Raden Haji Abdul Hamid (Prabu Diratdjah IV) pahlawan

Bin Raden Haji Sjarif (Prabu Diratdjah III) dermawan

Bin Raden Haji Abdul Habib (Prabu Diratdjah II) sastrawan

Bin Pangeran Prabu Diratdjah Abdullah setiawan

Bin Sultan Mahmud Badaruddin Palembang kesultanan

Bin Sultan Mahmud Bahauddin basteri

Bin Susuhunan Ahmad Najamuddin demi peri

Bin Sultan Mahmud Badaruddin jauhari

Bin Sultan Muhammad Mansyur berani

Bin Susuhunan Abdurrahman terlalu aman

Bin Pangeran Ratu Mangkurat bangsawan

Bin Tumenggung Monconegoro turunan

Inilah yang diriwayatkan tuan

Palembang Darussalam, 2007

Syair dibuat oleh

Raden Haji Abdul Habib (PD II)

Bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah

Bin Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin / SMB II

Dan ditambah oleh Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja

Tempat Keselamatan

Palembang Darussalam harapan kita

Untuk keselamatan makhluk Allah

Supaya hidup di dunia aman sejahtera

Di akhirat kita mendapat ridho Allah

Niat yang baik banyak rintangan

Iblis dan setan turut berperan

Untuk mencegah keselamatan manusia

Agar sama-sama masuk neraka

Beda pendapat mungkin terjadi

Iri dan dengki turut mengiringi

Hujat menghujat melingkari

Menunjukkan jari diri

Palembang Darussalam

Benteng Kuto Besak namanya sekarang

Dahulu dikenal bernama Kuto Anyar

Kuto Anyar dibangun anak negeri

Salah satu simbol harga diri

Kuto Anyar simbol negeri

Itulah yang harus dan perlu diketahui

Supaya anak cucu kita mengerti

Bahwa harga diri kita akan dicuri

Pencuri beralasan akan memperbaiki

Padahal ada yang akan dicari

Membongkar kesana kemari

Menghilangkan harga diri anak negeri

Kuto Anyar harus kembali

Darah pahlawan banyak membasahi

Mempertahankan harga diri

Melawan kafir yang menyerang negeri

Budaya Palembang Darussalam telah pergi

Termasuk adat istiadat yang dipatuhi

Tidak dilaksanakan oleh anak negeri

Karena dianggap untuk mengekang diri

Sadarlah dan insyaflah anak negeri

Kita semua telah dibohongi

Negeri dirusak, tidak kita sadari

Oleh para pendatang yang tidak tahu diri

Palembang Darussalam, 12 Ramadhan 1425 – 26 Oktober 2004

Negara Indonesia hampir hancur lebur

Adat istiadat para leluhur sudah mulai luntur

Akibat orang-orang sombong dan takabur

Merasa lebih hebat, pintar, berkuasa lupa bersyukur

Jangan berdiam diri dan melihat saja

Orang menghancurkan adat istiadat bangsa kita

Hasil karya nyata para leluhur bangsa

Yang tidak dapat dinilai dengan emas atau permata

Bangun dan sadarlah anak bangsaku

Jangan diam terlena dan menunggu

Lihatlah perobahan perobahan disekelilingmu

Budaya baru sudah mulai mempengaruhimu

Bila terjadi sliang pendapat, hendaklah bermufakat

Jangan jadi penjilat dan mudah diperalat

Saling salah, adu domba dan berfikiran jahat

Menyebabkan Negara kita jadi terpuruk dan melarat

Pelihara dan jaga adat istiadat bangsa ini

Untuk menangkal perobahan yang terjadi

Jangan sampai generasi penerus bangsa nanti

Terbawa arus, terpengaruh dan hilang jati diri

Adat istiadat sebagai perekat bangsa

Para Sultan di Nusantara diajak serta

Menghadapi dan memecahkan silang sengketa

Agar Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi jaya

Palembang Darussalam, 3 Rabiul Awal 1424 H – 5 April 2003 M

Kesultanan Palembang sudah bangkit

Negeri Palembang Darussalam tempatnya

Sultan Mahmud Badaruddin tiga sudah diangkat

Prabu Diradja asal usulnya

Banyak cobaan yang dihadapi

Dilakukan oleh orang iri dan dengki

Karena tidak memenuhi syarat diseleksi

Membuat ulah kesana kemari

Penyakit iri dan dengki menggerogoti

Berbagai cara dilakukannya

Mencari jalan supaya diakui

Mendatangi pejabat disana sini

Tambeng senjatanya yang utama

Meniru-niru sudah biasa

Pekerjaan nenek moyangnya

Mencari pembenaran cerita lama

Asal muasal dari Paguyuban

Pemangku Adat turut berperan

Membuat julukan Aranan Sultan

Merusak tatanan para bangsawan

Mengaku ngaku zuriat Sultan

Entah Sultan dari mana

Asal ngomong merasa tidak berdosa

Dianggapnya seperti sandiwara

Tambeng bukan sifat Bangsawan Palembang

Menjilat, membohongi menjadi kawan

Bangsawan menjago tato keramo

Tato Keramo menjadi pegangan

Palembang Darussalam, 2007

+ Syair Sultan Mahmud Badaruddin

Sultan Mahmud Badaruddin yang punya negeri

Datanglah musuh tidak berperi

Dengan takdir Tuhan yang qohari

Pindahlah ia ke lain negeri

Dari Palembang ke Ternati

Diamlah disana berbuat bakti

Jikalau iman kurang mengerti

Rusaklah badan serta hari

Rusak badan pada itu ketika

Karena berperang dengan kapir celaka

Tetapi jikalau tidak didaulat belaka

Niscaya menang pula Sri Paduka

Syair ini dibuat pada tanggal 9 Syawal 1316 oleh cucu Sultan Mahmud Badaruddin II yang lahir di Ternate yaitu Raden Haji Abdul Habib Prabu Diratdjah bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah bin Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II). Supaya diingat oleh anak Negeri Palembang Darussalam

+ Syair Raden Haji Abdul Habib Prabu Diratdjah II bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah

Murid Pangeran Suryo Muhammad Arsyad

Raden Abdul Habib yaitu

Atas kediaman tidaklah tentu

Banyaklah anak mantu

Itupun tidak di negeri satu

Ada Palembang, Banyuwangi negeri

Ada juga yang belum beristri

Ada di Mekkah hendak digari

Ketika itulah menuliskan peri

Perihal seperti cerita

Supaya diketahui oleh anak cucu kita

Dari mana asal keturunan kita

Janganlah berbuat piil yang lata

Piil yang lata sudah terperi

Beserta pula yang membesarkan diri

Pakailah ilmu alim yang bahari

Inilah yang dipesan malam dan hari

Malam dan hari ketika bersama

Talmizi dari Pangeran Suryo Kesumo

Beserta dipesan oleh Paduka Kerama (SMB II)

Saudara mufakat yang terutama

Terutama fiil kelakuan

Jikalau tidak akhirnya tak keruan

Beberapa banyak kenyataan

Negeri diperintah oleh Hulanda syaitan

Palembang Darussalam, 9 Syawal 1316

+ Syair Silsilah

Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja

Drs. Raden Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H.

Raden Muhammad Sjafei Prabu Diradja

Digelar Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja

Sehari-hari dipanggil Den Bagus sebutan

Bin Raden Haji Abdul Hamid (Prabu Diratdjah IV) pahlawan

Bin Raden Haji Sjarif (Prabu Diratdjah III) dermawan

Bin Raden Haji Abdul Habib (Prabu Diratdjah II) sastrawan

Bin Pangeran Prabu Diratdjah Abdullah setiawan

Bin Sultan Mahmud Badaruddin Palembang kesultanan

Bin Sultan Mahmud Bahauddin basteri

Bin Susuhunan Ahmad Najamuddin demi peri

Bin Sultan Mahmud Badaruddin jauhari

Bin Sultan Muhammad Mansyur berani

Bin Susuhunan Abdurrahman terlalu aman

Bin Pangeran Ratu Mangkurat bangsawan

Bin Tumenggung Monconegoro turunan

Inilah yang diriwayatkan tuan

Palembang Darussalam, 2007

Syair dibuat oleh

Raden Haji Abdul Habib (PD II)

Bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah

Bin Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin / SMB II

Dan ditambah oleh Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja

+ Palembang Darussalam

Tempat Keselamatan

Palembang Darussalam harapan kita

Untuk keselamatan makhluk Allah

Supaya hidup di dunia aman sejahtera

Di akhirat kita mendapat ridho Allah

Niat yang baik banyak rintangan

Iblis dan setan turut berperan

Untuk mencegah keselamatan manusia

Agar sama-sama masuk neraka

Beda pendapat mungkin terjadi

Iri dan dengki turut mengiringi

Hujat menghujat melingkari

Menunjukkan jari diri

Palembang Darussalam

+ Benteng Besak Kuto Anyar

Benteng Kuto Besak namanya sekarang

Dahulu dikenal bernama Kuto Anyar

Kuto Anyar dibangun anak negeri

Salah satu simbol harga diri

Kuto Anyar simbol negeri

Itulah yang harus dan perlu diketahui

Supaya anak cucu kita mengerti

Bahwa harga diri kita akan dicuri

Pencuri beralasan akan memperbaiki

Padahal ada yang akan dicari

Membongkar kesana kemari

Menghilangkan harga diri anak negeri

Kuto Anyar harus kembali

Darah pahlawan banyak membasahi

Mempertahankan harga diri

Melawan kafir yang menyerang negeri

Budaya Palembang Darussalam telah pergi

Termasuk adat istiadat yang dipatuhi

Tidak dilaksanakan oleh anak negeri

Karena dianggap untuk mengekang diri

Sadarlah dan insyaflah anak negeri

Kita semua telah dibohongi

Negeri dirusak, tidak kita sadari

Oleh para pendatang yang tidak tahu diri

Palembang Darussalam, 12 Ramadhan 1425 – 26 Oktober 2004

+ Indonesia Negaraku

Negara Indonesia hampir hancur lebur

Adat istiadat para leluhur sudah mulai luntur

Akibat orang-orang sombong dan takabur

Merasa lebih hebat, pintar, berkuasa lupa bersyukur

Jangan berdiam diri dan melihat saja

Orang menghancurkan adat istiadat bangsa kita

Hasil karya nyata para leluhur bangsa

Yang tidak dapat dinilai dengan emas atau permata

Bangun dan sadarlah anak bangsaku

Jangan diam terlena dan menunggu

Lihatlah perobahan perobahan disekelilingmu

Budaya baru sudah mulai mempengaruhimu

Bila terjadi sliang pendapat, hendaklah bermufakat

Jangan jadi penjilat dan mudah diperalat

Saling salah, adu domba dan berfikiran jahat

Menyebabkan Negara kita jadi terpuruk dan melarat

Pelihara dan jaga adat istiadat bangsa ini

Untuk menangkal perobahan yang terjadi

Jangan sampai generasi penerus bangsa nanti

Terbawa arus, terpengaruh dan hilang jati diri

Adat istiadat sebagai perekat bangsa

Para Sultan di Nusantara diajak serta

Menghadapi dan memecahkan silang sengketa

Agar Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi jaya

Palembang Darussalam, 3 Rabiul Awal 1424 H – 5 April 2003 M

+ Kebangkitan Kesultanan Palembang

Kesultanan Palembang sudah bangkit

Negeri Palembang Darussalam tempatnya

Sultan Mahmud Badaruddin tiga sudah diangkat

Prabu Diradja asal usulnya

Banyak cobaan yang dihadapi

Dilakukan oleh orang iri dan dengki

Karena tidak memenuhi syarat diseleksi

Membuat ulah kesana kemari

Penyakit iri dan dengki menggerogoti

Berbagai cara dilakukannya

Mencari jalan supaya diakui

Mendatangi pejabat disana sini

Tambeng senjatanya yang utama

Meniru-niru sudah biasa

Pekerjaan nenek moyangnya

Mencari pembenaran cerita lama

Asal muasal dari Paguyuban

Pemangku Adat turut berperan

Membuat julukan Aranan Sultan

Merusak tatanan para bangsawan

Mengaku ngaku zuriat Sultan

Entah Sultan dari mana

Asal ngomong merasa tidak berdosa

Dianggapnya seperti sandiwara

Tambeng bukan sifat Bangsawan Palembang

Menjilat, membohongi menjadi kawan

Bangsawan menjago tato keramo

Tato Keramo menjadi pegangan

Palembang Darussalam, 2007