Syair Sultan

Syair Sultan Mahmud Badaruddin

 

“Sultan Mahmud Badaruddin yang punya negeri
Datanglah musuh tidak berperi
Dengan takdir Tuhan yang qohari
Pindahlah ia ke lain negeri

Dari Palembang ke Ternati
Diamlah disana berbuat bakti
Jikalau iman kurang mengerti
Rusaklah badan serta hari

Rusak badan pada itu ketika
Karena berperang dengan kapir celaka
Tetapi jikalau tidak didaulat belaka
Niscaya menang pula Sri Paduka”

 

Syair ini menggambarkan atau menceritakan situasi dan kondisi pada waktu perlawanan Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (Sultan Mahmud Badaruddin II) melawan penjajahan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Jendral Baron de Kock, sehingga Sri Paduka beserta keluarga dan para kerabatnya keluar dari Negeri Palembang Darussalam (dipaksa untuk naik kapal) pada hari Selasa malam tanggal 3 Syawal 1236. Beliau beserta rombongan diasingkan ke Ternate, pada hari Rabu tanggal 4 Syawal 1236 H (3 Juli 1821). Syair ini dibuat pada tanggal 9 Syawal 1316 oleh cucu Sultan Mahmud Badaruddin II yang lahir di Ternate, yaitu Raden Haji Abdul Habib Prabu Diratdjah bin Pangeran Prabu Diratdjah Haji Abdullah bin Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin (SMB II).

Dengan dikeluarkannya Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badaruddin dari Negeri Palembang Darussalam, maka Belanda merasa bahwa mereka telah menang dari peperangan. Hal tersebut dirayakan secara besar-besaran oleh kerajaan Belanda. Dan bagi sesiapa yang telah dianggap berjasa, diberikan penghargaan khusus / bintang penghargaan oleh kerajaan Belanda. Hingga sampai saat ini, masih banyak terdapat zuriat kaki tangan Belanda yang membanggakan pemberian penghargaan dari Belanda tersebut.

Selanjutnya, Belanda menyusun Kesultanan Palembang dengan mengangkat Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom bin Susuhunan Husin Diauddin menjadi Sultan Palembang Darussalam. Pemerintahannya diatur oleh Belanda, sesuai dengan perjanjian, dan pada tanggal 4 Zulhijjah 1236, Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom diberi gaji dari Komisaris Belanda sebesar 2,200 (F 2,200).

Pada tanggal 6 Rabiul Akhir 1239, Komisaris Belanda mengangkat Demang Polisi dan pejabat-pejabat Kesultanan Palembang (buatan Belanda). Pengangkatan tersebut dilaksanakan oleh Dewan di bawah perintah Residen Belanda dengan susunan sebagai berikut :

Ketua : Susuhunan Husin Diauddin (Sunan Mudo)

Anggota :

  1. Pangeran Kerama Jaya Perdana Menteri
  2. Kemas Temenggung Kerta Negara
  3. Kemas arangga Hasan
  4. Kirangga Tamin
  5. Kirangga Ahmad
  6. Kirangga Jalil
  7. Pangeran Pengulu Agama

Oleh karena terus diatur oleh Belanda (sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom di Bogor), maka Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom yang telah diangkat oleh Belanda merasa kurang puas dan menyerang Belanda di Benteng Kuto Anyar, dan penyerangan itu dapat digagalkan oleh Belanda. Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom terus lari ke daerah dan mulai mengadakan pemberontakan.

Karena penyerangan tersebut, maka Susuhunan Husin Diauddin disuruh Belanda untuk berangkat ke Betawi / Jakarta untuk meminta maaf atas perbuatan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom. Seharusnya Susuhunan Husin Diauddin pergi bersama dengan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom. Namun oleh karena setelah ditunggu beberapa lama, Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom tak kunjung datang, maka beliau ditinggalkan oleh Susuhunan Husin Diauddin / Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Wira Kerama. Sementara itu, Raden Abubakar dan putranya yang lain tidak ikut, hanya para putrinya yang ikut pergi ke Betawi.

Pangeran Adipati Abdurrahman disuruh Belanda untuk mencari Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom ke daerah dan dibawa secara baik-baik ke Palembang. Akan tetapi, sesampainya di Terusan Pegayut (waktu Maghrib, malam Kamis, 13 Xulhijjah 1240), wafatlah Pangeran Adipati Abdurrahman dalam usia 45 tahun, 8 bulan, 4 hari dan 1,5 jam. Jenazah beliau dibawa ke Palembang dan dimakamkan di Lemabang (lokasi makam Kawah Tekurep) dengan upacara militer Belanda.

Karena perlawanan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom tersebut kurang mendapat dukungan dari anak Negeri Palembang Darussalam dan bahkan barang-barang yang dibawanya banyak yang dilarikan orang, maka Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom membunuh Pangeran Bajau (pimpinan pembawa barang) yang menyebabkan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom diamuk oleh orang Pasemah.

Atas bujukan Kirangga Wiro Sentiko (bekas Menteri Sultan yang berpihak ke Belanda), Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom menyerahkan diri pada Belanda dan membuat perjanjian serta menyerahkan Kesultanan Palembang (Kesultanan Palembang masa Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom adalah Kesultanan yang dibuat oleh Belanda dan Kesultanan tersebut dihapuskan oleh Belanda sendiri). Selanjutmya, Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom dibuang ke Banda dan dipindahkan ke Manado (dikatakan bahwa makam Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom terdapat di Manado, walaupun tidak jelas lokasinya).

Perlu diingat oleh Anak Negeri Palembang Darussalam :

Bahwa Sri Paduka Susuhunan Ratu Mahmud Badariddin tidak pernah menyerahkan Kesultanan Palembang Darussalam kepada siapapun, apalagi kepada orang kafir / Belanda.

Ada yang dahulu zuriatnya menjadi pengikut Belanda / golongan darah putih, menyatakan bahwa Kesultanan Palembang Darussalam tahun 1825 telah dihapuskan Belanda karena zuriat golongan darah putih mengambil barang-barang peninggalan Sultan Palembang Darussalam yang dibuang ke Ternate.